My life as a Cat Lover

Wah, ternyata gak sadar sudah setahun gak nulis di blog. Padahal pengen, cuma belum bisa ngatur waktu dengan baik. Ada beberapa hal yang berubah sejak setahun yang lalu. Salah satunya adalah bahwa sekarang aku seorang Cat Lover atau setidaknya pengennya sih seperti itu. Dan itu berkat si Cowy.

Sebenarnya dari dulu aku suka kucing, tapi gak pernah ingin memelihara. Si Cowy adalah kucing pertama yang aku pelihara. Mula-mula dia suka datang ke rumah. Dia kucing yang cantik. Warna bulunya putih dengan totol2 hitam seperti warna sapi. Anak-anak sekolah yang suka mainin kucing pun kadang memanggilnya si Sapi. Cowy ini sering takut dan kalah sama kucing lain, makanya sering aku bela kalo ada yang mengganggunya atau ketika berebut makanan. Karena penakut dan warnanya inilah maka kunamakan dia Cowy. Bisa berarti mirip sapi, bisa juga berarti coward alias penakut.Dia juga kucing yang pendiam, jarang mengeong.

Jpeg

Si Cowy

Semula Cowy hanyalah kucing stray, yang sering aku beri dia makan saat datang. Aku mulai menyediakan makan dan memperhatikannya secara secara intensif setelah kutemukan dia pincang karena kakinya patah. Waktu itu aku baru pulang dari bepergian (lupa dari mana) dan menemukan si Cowy datang ke rumah dengan terpincang2. Hingga saat ini, meskipun sudah sembuh kaki depannya terlihat bengkok. Pernah dia kelihatan hamil, tapi entah dimana melahirkannya dan kemana anaknya. Hingga suatu hari dia benar-benar hamil dan melahirkan di rumah. Anaknya 3 ekor. Yang putih kuberi nama Macchiato. Sebenarnya gak benar2 putih, tapi krem seperti susu coklat, dengan warna coklat/hitam di sekeliling telingan dan hidungnya. Waktu baru lahir tampak paling jelek, tapi setelah beberapa minggu, malah jadi yang paling cantik. Yang hitam kuberi nama Coffe. Gak solid hitam sih, perut dan dadanya putih. Yang putih bertotol2 hitam dan yang paling mirip ibunya namanya Moccachino. Senang rasanya melihat mereka tumbuh sehat di kardus yang kusediakan. Merasakan serunya saat mereka belajar makan. Mereka kitten yang lincah. Suka naik dan manjat teralis jendela, bahkan sampai ke lubang angin. Tapi nanti takut turun.

20150828_163425[1]

Jika malam mereka di dalam rumah, tapi siang hari kardus tempat tidur mereka kusimpan di teras belakang. Suatu malam setelah makan, aku lupa belum memasukkan mereka ke dalam. Aku tertidur cepat. Sekitar jam 2 terbangun dan ingat mereka masih di luar. Tapi saat keluar ternyata kardusnya kosong. Pot-2 dekat teras tumpah berantakan. Aku cari2 ternyata mereka ngumpet di tempat pompa air yang tertutup papan. Kubongkar papannya, tapi hanya menemukan si Opi dan Chino. Kucari2 sekitar rumah, tidak juga kutemukan Chia. Mungkin ada yang memangsanya, entah ular atau musang yang beberapa hari sebelumnya lewat dan membuat si Cowy shock ketakutan. Baru kali itu kurasakan sedih yang mendalam kehilangan anak bulu yang cantik itu. Mulanya akau merasa lebay, tapi saat kutanya Ruby temanku yang seorang CL, ternyata hal itu biasa. Ya, aku jadi sering membaca status Ruby di Facebook yang bercerita tentang kucing-kucingnya. Dari situ jadi masuk grup Peduli Kucing. Aku juga sering mengikuti cerita Evi, teman di kost Karang Pola dulu, tentang kucingnya. Aku jadi mengenal para Cat Lover melalui Faceboook. Betapa mereka sering menyelamatkan kucing yang teraniya di jalanan, mengadopsinya dan merawatnya jadi kucing2 yang sehat dan cantik. Sungguh aku ingin bisa seperti mereka.

Aku juga jadi kenal dokter hewan di Cicurug ini. Dia seorang dokter hewan (wanita) muda yang bertugas di Puskeswan Cicurug. Pertama kali menghubunginya karena ada scabies di kupingnya. Ada yang lucu ketika habis diobati dokter. Si Cowy kan belum pernah diobati dan dia cenderung takut dengan orang asing. Jadi saat mau disuntik harus dipaksa. Setelah itu, dia marah. Aku dicuekin. Lapar pun dia gak mau minta makan.

Sekarang Chino dan Opi udah remaja. Sehat,besar dan sudah di-vaksin. Si Opi malah termasuk gendut karena emang dia makannya banyak. Mereka punya seekor adik, yang cantik (padahal jantan). Sebenarnya adiknya 4, tapi yang 2 hilang dan yang 1 meninggal. Yang tersisa diberi nama Cicha, karena dia cantik. Eh, ternyata setelah lebih besar ketahuan bahwa dia cowok…ah, biarlah namanya tetap Cicha…

Cicha cantik kan..?

Cicha cantik kan..?

Oz diary : Part 3 – Foto-foto

Taman

Taman

Burung Ibis banyak berkeliaran

Burung Ibis banyak berkeliaran

Gazebo di taman

Gazebo di taman

Dermaganya sedang ditutp karena akan direnovasi

Dermaganya sedang ditutp karena akan direnovasi

Rumah cantik depan parkir taman

Rumah cantik depan parkir taman

 

 

Sayang…lupa foto kedai/kafe nya. Mau foto pemain musiknya takut mereka gak mau difoto sembarangan, takut melanggar privasi, padahal ternyata mereka gak keberatan

Oz diary : Part 3 – Minggu pertama

Hari ini hari minggu, berarti sudah seminggu saya di Brisbane. Entah kenapa hari ini bawaannya mellow. Kangen keluarga dan teman2. Jalan pagi hari ini pun saya skip. Tapi bukan berarti terus “mlungker” di tempat tidur. Pagi ini aku bersih2 apartemen.

Oh ya, selama di Brisbane aku tinggal di apartemen yang disediakan host-ku, Karen. Letaknya di lantai 2 tepat diatas apartemen Karen. Sewanya per minggu karena untuk jangka pendek, seharga AUD 250 / week. This is one-bedroom furnished apartment. Jadi aku gak perlu bawa perlengkapan apa2 dari rumah. Memang saat datang, aku diperlihatkan isi apartment ini. Lengkap, ada ruang kerja dengan PC. Tapi karena aku bawa laptop, gak pernah kupake. Aku hanya pake koneksi wifi-nya untuk ngenet.

Selain perlengkapan rumah, di sini juga sudah disediakan toiletris dan bahan kebersihan seperti sabun cuci piring, pembersih kamar mandi, dll. Yang gak cuma sabun cuci dan mesin cuci-nya. Di dapur juga sudah tersedia sedikit persediaan makaanan. Ada buah, roti, bumbu dan makanan kalengan. Wah, kupikir Karen baik banget ya, sampe nyedian semua ini untuk saya…Itupun saya masih numpang makan siang dan sore di tempatnya Karen. Tapi ternyata itu gak gratis. Ada bond sebesar AUD 500 yang harus saya bayar bersama biaya sewa minggu pertama. Bond ini selain untuk biaya penyediaan keperluan di apartment juga untuk biaya cleaning-up setelah saya tinggal.

Kalo hari pertama datang sebagian besar kuisi dengan tidur (dari jam 9 pagi baru bangun jam 4 sore), maka hari ke-2 saya diisi dengan belanja dan ke bank. Pertama Karena menunjukkan pertokoan terdekat dimana ada 7dan IGASupermarket. Diseberangnya ada juga supermarket India, tapi Karen gak memperkenalkannya. Pertama2 kami ke 7-Eleven dulu untuk beli Go Card untuk naik kendaraan umum. Lalu kami naik bis ke Chermside, shopping Centre terdekat dimana ada bank untuk aku buka rekening. Layanan di bank ANZ sini ternyata sama aja dengan layanan bank kita, jadi gak ada masalah. Setelah urusan buka rekening beres, kami belanja di Woolsworth.

Karen bilang bahwa sebaiknya aku beli mesin cuci sendiri agar bebas kalo mau nyuci. Maka dia membawaku ke Harvey Norman. Kali ini kita gak naik bis, kata Karen bisa sampe setengah hari kalo pake bis. Kirain jauh, ternyata gak sampe 10 menit udah sampe. Kami milih mesin cuci yang gak terlalu mahal tapi nanti mudah menjualnya lagi, kalo udah pulang.

Klik ini untuk halaman berikutnya.

Oz diary: Part 3 – Minggu pertama (sambungan)

Minggu ini memang programku belum dimulai, tapi Karen sudah memberikan jadwal untukku. Dia juga memberikan beberapa jurnal dan link di internet untuk kubaca dan pelajari. Hadeuh…banyak lho. Udah gitu dia pun membuat workshet untuk memastikan saya dapat menarik pelajaran dari apa yang saya baca.

Saya pun mulai belajar pergi sendiri tanpa didampingi Karen. Pertama ke Chermside. That was easy cos it’s quite close from our place. Then I tried to go further to Holland Park. Hari itu hari Jumat, saya ingin lihat mesjid tertua di Brisbane. Ngecek di translink.com sih, rutenya gak ribet. Cuma perlu ganti bis sekali di Cultural Center Station, turun di perhentian bis di Mt. Gravatt no 34, terus jalan deh… Tapi rada gak yakin juga sih, abis penumpangnya sedikit, terus pada turun di salah satu perhentian. Kirain itu Cultural Centre Station tujuan akhir bis. Ternyata masih jauh, lewat tunnel dan gak berhenti2 sampe City. Masuk kotanya, saya mulai mengenali daerah yang pernah kukunjungi 4 tahun yang lalu. Di tahun 2010 saya pernah ke Brisbane untuk menghadiri IASL Conference. Kami menginap di Edmonton Motel yang dekat dengan wilayah City.

Naik bis berikutnya saya agak bingung juga nih. Daerahnya asing. Saya lihat perhentian busnya pun tidak selalu berurutan. Akhirnya, saya ke Pak supirnya aja bilang bahwa saya mau turun di bus stop no 34. Ternyata ada seorang muslimah asal Bangladesh yang juga mau ke mesjid itu. Kami pun jalan bersama menuju mesjid. Sampe disana dia memisahkan diri. Ya sudah saya sendirian lagi. Ini berlangsung sampe sholat Jum’at selesai. Dan saya pun pulang sendiri dengan rasa agak bingung dan gak yakin dari sebelah mana saya harus naik bis. Udah gitu karena itu public holiday, bis tidak beroperasi sebagaimana biasa. Saya udah coba nyebrang karena secara logika kalo saya mau kembali ke Cultural Center saya naik bis yang arah sebaliknya dari yang awal dong…Tapi halte di seberang ternyata nomornya beda dengan petunjuk dari translink. Ya udah deh, ikuti petunjuk yang ada aja. Setelah lebih dari 30 menit akhirnya bis yang kutunggu tiba. Benar aja bus itu ternyata berhenti di terminal akhir Garden City, bukan ke Cultural Center. Kata supirnya saya harus turun ke bawah ke platform 1 untuk naik bis yang ke CC. Untungnya ada anak muda entah Korean atau Japanese, yang menunjukkan no bis yang harus saya naiki dan perhentiannya. Kebetulan mereka pun naik bis yang sama tapi turun duluan di South Bank. Anak muda yang baik… Ah, saya memang yakin kok bahwa saya akan baik2 saja dan akan ada yang menolong jika saya tidak tahu jalan.

Karen agak kaget waktu saya bilang mau ke mesjid itu sendiri. Dia tahu itu jauh. Dia menawarkan mau mengantar ke mesjid terdekat lain kali. Dia juga menanyakan apa saya perlu waktu khusus setiap minggu untuk ke mesjid. Dia bisa menjadwalkan setiap hari Jum’at saya hanya setengah hari dan sorenya digunakan untuk de-brief kegiatan seminggu dengannya.

Hari Sabtu, Karen mengajak saya ke taman dimana ada pantai dan pertunjukan musik. Kukira itu disekitar South Bank dan mungkin kita bisa lihat Royal Couple (Prince William & Kate Middleton) tapi ternyata bukan. Dia membawaku ke Sandgate Park. Disana ada pantai yang menurut Karen biasa aja, tapi suasana asyik. Disana ada taman, pantai dan dermaga. Yang paling menarik perhatianku adalah rumah disekitar wilayah itu. Kebanyakan rumah lama dengan bentuk rumah panggung. Masih banyak yang terbuat dari kayu di sekitar itu tapi tetap bagus dan kokoh. Di sudut jalan ada kafe, namanya Cafe on the Park. Kami beli makanan disana dan kemudian kita gelar tikar dan kursi lipat menikmati makan siang dan suasana di sekitar. Katanya akan ada pertunjukan musik jam 1 siang, tapi ditnggu belum juga ada. Akhirnya kami berjalan2 ke pantai lalu mampir duduk di kafe karena ternyata live-musicnya ada di sana. Musiknya Jazz enak banget didengerin di suasana yang santai seperti itu. Ternyata pemusiknya teman Karen. Saat istirahat mereka menghampiri meja kami dan ngobrol. Karen mengenalkan saya pada mereka. It was such a nice day…

Foto-fotonya lihat disini ya….

Oz Diary: Part 2 – 7 jam di Singapore

Begitu mendarat di Terminal 3 Changi Airport, sebenarnya gak yakin mau melangkah ke mana. Tapi jalan aja terus, ternyata gak lama sampe di Terminal 2. Menurut informasi yang kubaca, disini nih tempatnya Free Tour. Emang udah direncanain untuk ikut free tour dan explore Changi selama transit di sini. Sialnya catatan hasil browsing yang isinya mau ke mana dan ke arah mana di Changi ini ketinggalan. Untungnya ada booklet informasi tersedia.

Karena sudah jam 2 siang da aku belum sholat zuhur, maka yang pertama dituju adalah mushola atau prayer room. Berbekal booklet tadi, prayer room dapat kutemukan dengan mudah. Bersih tapi agak bau, entah karena lembab atau itu bau sepatu/kaos kaki orang. Tempat wudhunya nyaman dan terpisah, mukena pun tersedia.

Setelah itu daftar untuk ikut Free Tour. Free tour ini berlangsung selama 2 jam. Info lengkapnya ada disini. Petugasnya mintaku menunjukkan paspor dan boarding pass. Jadwal berikutnya adalah yang pukul 4.00 – 6.00 sore. Tapi kami harus siap di depan counter pukul 3.10 untuk mendapatkan stiker. Selama ikut tour ini, peserta tidak diperbolehkan membawa koper (trolley). Mereka akan menyarankan untuk menitipkan tas besar atau koper ke tempat penitipan. Tadinya backpack-ku mau kutitipkan, tapi setelah lihat kok jauh ya?… Takut ketinggalan, aku urung menitipkan tas punggung ini.

Jam 3.10 kita semua dikumpulkan di depan counter, lalu mereka membimbing peserta sampai ke depan imigrasi. Ternyata kita harus melewati pintu imigrasi ini dulu. Setelah itu si petugas menunggu di seberang imigrasi dengan membawa kartu kedatangan yang sudah diisi.

Guide kami seorang Ibu2 yang tadi bertugas di counter. Wah, ternyata si Ibu ini tegas banget. Sebelum naik bus, kami dibriefing tentang apa yang tidak boleh kami lakukan. Peserta tidak diperkenan mengambil foto selama dalam bis, sampai pada waktu yang disediakan. Dia juga menyampaikan bahwa layanan ini tersedia atas sponsor Singapore Airlines dengan tujuan agar peserta datang kembali ke Singapore. Kelihatan sekali dia bangga banget dengan negaranya dengan berkali2 menyebutkan bahawa Singapore adalah negara kaya, aman dan maju. Mana pake menyebut bahwa Singapore saat itu berkabut karena asap kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia lagi…Si Ibu ini juga menegur mereka yang ngobrol selama penjelasannya. Yah, namanya juga gratis, banyak aturan dan pesan sponsornya lah… Termasuk aturan gak boleh makan dan minum di bis, tapi disitu tersedia air minum dalam botol seharga SGD1 untuk yang mau.

Tour ini berhenti di selama 15 menit di Merlion Park. Di sini kita bisa lihat dan foto2 Singpore Flyer, Marina Bay Sand dan Esplane dari kejauhan. Tempat ini rame banget, semuanya pada foto2.

Setelah 15 menit kami kembali ke bis. Tapi rupanya ada yang terlambat sehingga kami menunggu dulu. Kami diantar kembali ke Terminal 2. Selanjutnya mau explore taman2 yang ada di sini. Tapi kok laper ya? Rupanya makan siang di pesawat tadi kurang nampol nih. Aku pun menuju food court yang ada di lantai 3 terminal 2 ini. Lupa apa nama tempatnya, pokoknya aku pilih paket ayam panggang iris yang disajikan bersama salad. Ah saladnya ternyata sedikit banget. Potongan ayamnya gede, sampe susah ngabisinnya. Tapi enak rasanya. Apa karena lagi lapar ya?

Setelah itu lanjut explore garden. Tapi cuma 2 yang ketemu. Pertama , Orchid Garden. Anggrek2nya tertata rapi. Terlalu sempurna menurutku hingga malah terlihat tidak natural. Apalagi dengan cahaya lampunya. Sunflower garden yang ada di lantai 3 berada di luar ruangan. Disini juga bunganya tampak dalam bentuk yang nyaris sempurna. Tapi enak dinikmati karena di luar ruangan dan saat itu sore menjelang matahari terbenam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bentuk bunga matahari yang sempurna

 

 

 

 

 

 

 

Tampaknya harus sudah mengakhiri petualangan disini nih… Cari mushola untuk sholat maghrib dan isya, terus menuju Terminal 3 dengan menggunakan sky-train. Dan menunggu waktu boarding. Sayang di terminal 3 ini gak lihat dan gak sempat duduk di kursi pijat. Padahal pegel banget nih…

Oz diary : Part 1 – Departure

Setelah melewati berbagai ketegangan dan keriweuhan dalam persiapan perjalanan ini, akhirnya saya bisa duduk di ruang tunggu boarding pesawat Singapore Airlines. Hari ini saya akan terbang menuju Brisbane dalam rangka mengikuti Executive Program dari Endeavour Fellowship Award. Berbagai rasa bercampur aduk jadi satu. Kecewa karena persiapan banyak yang meleset gak sempat dikerjakan. Sedih karena akan meninggalkan Mama dan sahabat-sahabat yang hangat. Terharu dengan kebaikan sahabat2. Tahu saya riweuh dan stress sendiri, mereka menawarkan berbagai bantuan meskipun mereka pun lagi sibuk. Mau nganter ke bandara meskipun capek. Udah gitu masih sempat2nya lagi ngasih jaket yang memang saya gak sempat beli. I love you all, guys…

Entah karena capek atau apa ya sehingga duduk disini menunggu keberangkatan ke negeri asing rasanya plain aja gitu…

Leg pertama dari perjalanan ini adalah JKT – SIN. Sengaja saya pilih rute ini (dan karenanya harus pake SQ, padahal sebenarnya pengen pake Garuda), karena kalo pake Garuda transit-nya di Denpasar. Males. Cuma nunggu di bandaranya doang, gak bisa ngapa-ngapain dan kemana-mana. Sementara kalo di Changi, paling gak bisa explore airportnya. Makanya, sengaja pilih penerbangan yang transitnya agak lama, yaitu 7 jam.

Bisa sampai pada pilihan SQ ini juga gak gampang. Lama mikirnya. Pertama booking di salah satu travel di jl. Pemuda Rawamangun.. Pilihnya Garuda. Menjelang mau issue, berubah pikiran. Apalagi setelah cek di Kayak. Tapi ternyata kalo di pesan di travel gak bisa seperti yang kita inginkan rute dan pilihan pesawatnya. Eh, mungkin bisa aja, tapi jatuhnya jadi mihiil bingit… Mau pesan langsung di web-nya maskapai tersebut, limit Credit Card saya gak mencukupi. Maklumlah itu CC gratisan, dengan fasilitas yang standar dan limit kecil. Aku sih rapopo..yang penting gak pernah nunggak. Wong jarang dipake, kecuali yakin bisa bayar…Akhirnya booking lagi di travel yang berbeda, karena Mbak2 yang di travel pertama itu tampak udah gak antusias lagi.

Ini pertama kalinya saya terbang dengan Singapore Airlines. Penerbangan dengan SQ biasa-biasa aja. Memang beda dengan naik pesawat domestik tapi gak bagus2 amat. Dulu waktu pertama ke Aussie pake Qantas, kurang lebih seperti ini. Pesawatnya memang besar. Airbus dengan seat 3-4-3. Pilihan hiburan ada, tapi males nontonnya. Pusing.

Pesawat ini lumayan kosong. Sederetanku no 54 aja cuma saya sendiri. Pramugari lumayan teliti bolak balik memeriksa penumpang agar sesuai dengan aturan. Tapi karena sekitarku kosong mereka terlihat seperti mondar mandir gak jelas gitu…Mereka pun gak memberi kita permen saat pesawat akan take-off seperti di Garuda. Kupingku jadi terasa sakit terutama saat landing, boasanya kalo ngemut permen bisa mengurangi rasa sakit di telinga. Tapi mereka tepat waktu, malah kayaknya sedikit lebih maju dari jadwal deh…

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 90 menit, sampai deh di Changi… A new adventure begin…

 

to be continued….

Shopping

I’m a bad shopper. Susah banget menghilangkan label itu dari diriku sendiri. Abis pengalaman seringnya malah menguatkan image itu sih. Kalo diingat-ingat, image itu bermula sejak masa kecil. Waktu kecil, kami terbiasa dapat bagian tugas rumah. Kadang menyapu, ngepel, masak atau belanja. Apalagi aku anak pertama, waktu itu rasanya yang paling banyak kerjaannya deh… Nah, seingatku kalo aku disuruh belanja ke pasar, Mama sering tidak puas dengan hasil belanjaanku. Dan yang paling aku ingat adalah peristiwa ketika aku salah belanja dan dimarahi Mama habis-habisan. Waktu itu aku ditugaskan belanja ke pasar bersama seorang kakak sepupu dari kampung. Karena kakakku ini belum tahu lingkungan, maka aku yang bertanggung jawab dalam tugas belanja ini. Jika semua yang ada di daftar belanja sudah terbeli, sisa uangnya boleh aku belikan kue. Aku senang dong… Ternyata saat belanja ada satu item yang gak ada. Lupa apa, tapi kayaknya cukup penting. Tentu aja sisa uang belanjanya cukup banyak dan semuanya aku belikan kue pancong! Walhasil, aku jadi dimarahi Mama. Bukannya berusaha cari barang itu, malah beli kue banyak-banyak. Rasanya sedih banget, karena udah merasa menjalankan tugas dan membayangkan puasnya makan kue pancong. Maka, meskipun disuruh menghabiskan kue pancong itu, enaknya gak terasa.

Kue pancong

Sejak itu aku jadi jarang dapat tugas belanja. Adikku yang lebih bisa diandalkan untuk urusan belanja ini. Akupun jadi gak berani ke pasar tradisional sampai dewasa. Baru setelah kuliah di kota lain, di Bandung tepatnya, aku berani ke pasar tradisional dan menikmatinya. Memang sih mula-mulanya gak sendiri. Seringnya bareng-bareng teman serumah. Paling gak di awal bulan kita belanja bersama untuk keperluan bersama. Atau kami belanja setelah lari pagi di Gasibu.

Sekarang aku malah senang dan menikmati belanja di pasar tradisional. Tidak lagi takut salah beli atau takut kemahalan. Karena aku itu tergolong payah dalam urusan tawar menawar. Rasanya seru dan kadang menemukan hal-hal yang tidak terduga di pasar. Jalan-jalan di pasar tradisonal di kota lain juga aku suka. Apakah itu berarti sekarang aku udah pinter belanja? Gak juga sih… Ini lebih karena sekarang aku belanja untukku sendiri dan dengan uangku sendiri. Kalo aku mau beli, ya beli aja. Gak pernah mikir takut kemahalan. Lagian sering gak tega kalo nawar dagangan bapak2 atau ibu2 penjual di pasar tradisional.

Pasar tradisonal di Pasar Minggu

Untuk belanja lain selain belanja keperluan dapur, aku sering gak puas dengan hasil belanjaku. Atau memaksa diri untuk merasa puas. Daripada menyesal… Contohnya bulan lalu. Aku terpaksa beli HP baru karena HPku hilang di angkot. HP yang hilang itu memang bukan HP bagus, jadi saat hilang, ya biasa-biasa aja. Tapi nomornya itu yang penting serta nomor kontaknya. HP itu memang hanya digunakan untuk telpon dan sms aja. Atau paling banter untuk m-banking. Karena gak ada budget dan memang mau nanti aja ganti smartphone (yg gak hilang), ya beli gantinya juga yang sekelasnya, yang low-end. Tapi ternyata jadinya beli HP yang low-end dengan harga yang gak murah-murah amat. Malah temanku bilang harga segitu mah bisa beli android s****** baru. Mula-nya sih puas aja dengan HP itu. Warnanya biru dan agak-agak smart dikit (bisa WA, Twitter dll). Tapi ternyata lemooot banget. Jadi nyesel deh, bahkan sempat terbersit pengen dibalikin aja ke tokonya, ganti dengan bener-bener low-end dan murah.  Tapi yah..sudahlah. Pake dan nikmati saja.

Kemarin ini juga terulang lagi shopping dengan hasil yang mengecewakan. Minggu itu aku memang sudah niat beli tas. Kriteria tas yang mau dibeli itu: sederhana modelnya tapi bagus (sreg di mataku lah…) dan bukan KW dari merk2 terkenal. Aku mah mendingan beli tas gak bermerk daripada KW. Pengennya yang agak bagusan dikit. Meluncurlah aku ke ITC Kuningan/Ambassador Mall. Katanya belanja di sini gak terlalu ribet dan banyak barang yang bagus. Adikku pernah dapat tas yang bagus dengan harga lumayan murah disini. Temanku juga, meskipun tas yang dibelinya tas KW tapi dia bilang banyak yang bagus2 dan murah. Tapi setelah seharian muter-muter dan dan turun naik ITC dan mall, ternyata sedikit banget toko yang jual tas. Itu pun gak banyak yang menarik. Daripada gak dapat, beli lah satu tas yang masuk kriteriaku. Tapi setelah di rumah kok rasanya itu tas gak ada istimewanya sama sekali ya? Nyesel kenapa gak naikin budgetnya sedikit dan beli tas di tempat lain…:( Apalagi setelah itu lihat2 tas di toko online, banyak yang modelnya terlihat bagus dengan kisaran harga yang masih masuk baudgetku.

Ngomong-ngomong soal belanja online, ini adalah cara belanja baru di era internet ini. Kata orang belanja online bisa bikin kecanduan dan membuat terlena. Aku juga sedikitnya pernah merasakan itu. Meskipun gak sampe kecanduan, tapi pernah seneng banget belanja online. Gak kerasa beli barang-barang yang sebenarnya gak benar-benar diperlukan.  Ada setrika kecil untuk travelling (gak terpake karena gak panas), alat untuk menghaluskan bumbu, plastik vacuum dll. Belum lagi yang salah pilih ukuran atau warna, atau terkecoh dengan gambar; kayaknya bagus tapi nyatanya abal-abal.

Gimana sih caranya jadi smart shopper? Ada yang bisa ngajarin?🙂