Tuhan Yang Maha Baik

Januari 21, 2008

Beberapa hari ini, saya sebenarnya malu jadi makhluk Tuhan. Saya merasa jadi hamba Allah yang terlalu disayang dan dimanjanya. Saya merasa malu karena apa yang saya lakukan sebagai hamba tidaklah sebanding dengan apa yang telah Ia berikan.
Saat ini saya sedang punya project: menyelenggarakan seminar untuk para pengelola perpustakaan di wilayah tempat kerja saya. Bukan upaya yang mudah karena ini bukan Jakarta. Pendidikan aja masih dinomor sekian kan, apalagi urusan baca membaca & perpustakaan. Sangat tidak populer.

Sayangnya, sekitar satu bulan menjelang pelaksanaannya saya juga punya banyak kesibukan lain. Di sekolah, saya harus membantu murid-murid saya mempersiapkan drama dalam bahasa Inggris yang akan dipentaskan untuk pertama kalinya dalam sejarah sekolah kami. Ada juga perjalanan dinas ke luar kota untuk studi banding. Dalam keluarga, ada beberapa acara pernikahan yang harus saya hadiri. Sebenarnya bukan menghadiri pernikahannya yang teramat penting, tapi bertemu dengan keluarga besar. Maklum Lebaran kemarin, keluarga kami gak mudik. Gak enak juga kalo gak silaturahmi ke Uwak, Pak De, Bu De, dll terutama yang sudah tua dan sering sakit-sakitan. Udah gitu, 3 acara keluarga tersebut berbeda tempat. Jauh2an: Surabaya, Jakarta & Bandung.

However, the show must go on. Aku harus menjalani semua kecapekan itu. Aku ikhlas dan mencoba menikmatinya. Ternyata aku bisa kok menjalani semua. Capek banget sih, tapi tetap sehat tuh…

Kembali ke acara yang sedang saya persiapkan: Tekad saya THE SHOW MUST GO ON. Memang waktu persiapannya mepet banget. Tapi saya minta pada Allah agar usaha saya ini berhasil dan saya kerjakan apa yang saya bisa kerjakan. Apa pelaksanaannya nanti sukses atau tidak, itu soal nanti. Alhamdulillah, selama persiapan acara tersebut, saya merasa Tuhan begitu banyak memberi kemudahan bagi usaha saya. Kalo ada 1-2 rencana yang gagal, tapi ternyata selalu ada hikmah dibalik itu, yang pada akhir sama sekali tidak menghambat persiapan. Kadang saya digoda oleh keraguan “bagaimana caranya usaha ini akan berhasil kalo persiapannya mepet begini?”, tapi saya ingatkan diri saya bahwa Tuhan itu Maha Kreatif dan Maha Baik. Dengan kuasaNYa, everything is possible. So, I stopped worrying how it would end. Just do my best, God will do the rest. Itu emang motto hidupku dan dalam hal ini I really live with it. By the time I’m writing this, saya belum tahu bagaimana hasil upayaku. Would it be a miracle that the show is going successfully or disaster? I don’t know yet. Tapi saya sudah banyak mendapat small miracles along my way. And I thank to God for that.

Ada satu hal lagi yang membuat saya merasa sangat disayang Tuhan. Agak tidak enak juga mengatakan karena ini menyangkut kesedihan orang lain. Ada teman dekat yang sedang dirundung masalah. Saya tidak akan menceritakan masalahnya, tapi masalahnya mengingatkan pada kesalahan yang pernah saya buat. Saya pernah melakukan kesalahan seperti yang teman saya lakukan. Dan pada saat itu, sama seperti dia saya tidak menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Saya lebih mempercayai pikiran saya, niat saya. Yang penting niat saya baik, tidak mau macem2 kok, cuma kebetulan harus begitu caranya atau dengan orang itu. Saya tidak peduli bahwa norma sosial dan aturan agama menyarankan bahwa sebaiknya saya tidak melakukan hal itu (yah, saya gunakan istilah ‘menyarankan’ karena hal itu bukan larangan keras, hanya sekedar rambu agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan/dimaksudkan). Kesalahan temanku itu hampir sama dengan yang kuperbuat dulu. Bedanya Tuhan menutup masalah tersebut dari orang lain. So nothing happened to me except that little gulity feeling inside of me. Memang kalo orang lain gak tahu dan gak mempermasalahkan, no harm and no damage come out of that. Karena kami (saya dan teman saya itu juga) tidak punya niat yang salah dan tidak melakukan hal-hal yang jelek. Hanya saja memang bisa menimbulkan salah persepsi bagi orang lain. Kalo dikembangkan oleh orang yang tidak bijaksana bisa jadi masalah besar seperti yang terjadi pada temanku ini.

Dengan ditutupnya kesalahan saya oleh Allah saya gak merasa lebih baik dari teman saya itu. I don’t why Allah treat us differently on the same case. Maybe it’s not really the same as I think. I don’t know, only God knows the real truth. Dia yang tahu pasti pelajaran apa yang harus diterima teman saya itu. Pastilah kesedihan dan rasa sakit yang diderita teman saya itu adalah suatu bentuk teguran sayang Allah kepadanya. She must learn the hard lesson. I hope later on she will realized that the lesson would made her stronger and better. She’s still young. Jalan di depan masih terbentang panjang buatnya. Ada istilah “growing pain” dalam bahasa Inggris. Saya mengartikannya bahwa bertumbuh itu ada sakitnya. Seperti anak kecil yang kata orang tua kalo mau tumbuh (grow), entah bisa jalan atau bisa ngomong, sering sakit (panas, demam atau mencret2) dulu. That’s how the love of God works. And God loves us so much.

On friendship

Bbrp wkt yg lalu, saya terlibat percakapan via sms dg seorang
teman yang kira2 spt ini:
Dia: Ngapain tahun baru? Ke laut, nonton tv atau tidur?
Saya: Tidur. Aku kurang sehat, capek. Km?
D: Rebutan channel tv, akhirnya tv dimatiin dan tidur
S: Yah, what’s so special about new year, anyway? Just another
ordinary day…
D: Enaknya ngumpul ama teman2, becanda. But can not replay the time
S: Emangnya kamu gak punya teman2 yg bisa diajak ngobrol dan becanda?
D: Di rmh pergi subuh, pulang stlh Isya, mana ada tetangga yg kenal?
Di kantor cuma ada 2 temanĀ  udah gitu orangnya alim banget. Imagine
deh…

Dr percakapan tsb saya melihat bahwa orang butuh teman and having fun
with them. I don’t know this is just a case or actually people do
need friends. Dalam kasus saya di atas, teman saya itu udah punya anak dan istri lho.

So what gitu loh…? Emang yang udah nikah gak butuh teman lagi? To tell you the truth, saya yg msh jomblo ini mengira kalo dg menikah kita gak akan merasa kesepian dan gak butuh teman lagi. Karena beberapa teman saya udah menikah begitu sih…menarik diri dari pertemanan. Ternyata persahabatan itu tetap dibutuhkan meskipun kita sdh punya teman hidup. Tp mungkin kadarnya beda kali ya…?

Anyway, persahabatan itu memang indah dan menghangatkan hati. Pada dasarnya manusia memang makhluk sosial. Jadi akan selalu butuh orang lain. Sahabat bukan sekedar orang lain, tetangga atau teman sekerja yg kebetulan berinteraksi dengan kita. Dia adalah yang kita pilih untuk jadi teman curhat, having fun dll. Jarak bisa jadi bukan halangan karena dia adalah orang kita percaya utk melihat kita apa adanya.
So, for all my friends: thanks for being my friends…