A blast from the past

A blast from the past

Advertisements

On being a leader

Salah seorang muridku, Agung, suatu kali pernah bertanya, “Bu, emang apa
sih enaknya jadi Kepala?” Sejenak saya tertegun sebelum menjawab,
“Enaknya kita bisa mengarahkan kelompok/bagian yang kita pimpin sesuai
keinginan dan cara kita. Gak enaknya, kita harus bertanggung jawab
terhadap kelompok kita itu. Baik dan jeleknya kelompok itu, kita lah yang
disorot.”

Sementara setelah itu dia manggut-manggut, saya malah berpikir, “apa iya sesederhana itu?”
Kenyataannya memang tidak sesederhana itu. Setiap kita adalah pemimpin. Al Qur’an bilang begitu. So, I think myself as a leader too. Bukan pemimpin besar, bahkan sedang pun tidak. Dalam lingkungan formal (lingkungan kerja), unit yang saya pimpin sangat kecil. Dalam lingkungan informal (pengajian ibu-ibu di lingkungan kampus), saya juga kebetulan
diminta jadi ketuanya saat ini. Sering saya merasa tidak mudah menjalaninya.

Saya ingat dalam sebuah presentasi, atasan saya mengatakan bahwa pemimpin adalah orang yang membantu anggota kelompoknya mencapai tujuan kelompok tersebut. Dalam lingkungan formal, mungkin bisa lebih mudah. Tujuan unit kita sudah ditentukan sejak awal. Ada hubungan atasan-bawahan, dimana norma umum yang berlaku adalah bahwa bawahan harus mematuhi atasannya.

Tapi disini pemimpin juga harus berhati-hati. Tidak bisa atasan hanya ingin dipatuhi atau ingin mencapai tujuan dengan caranya. Apalagi jika yang dipimpinnya adalah orang-orang yang pintar, sebaya atau lebih senior. Masukan dari anggota kelompok harus dipertimbangkan. Ketika masukan itu banyak dan berbeda-beda, pemimpin harus secara bijaksana
mengambil keputusan yang terbaik. Itu pun masih beresiko, karena apa yang dianggap terbaik oleh pemimpin belum tentu disetujui sebagian anggota kelompoknya. Masalah akan timbul jika pemimpin sering sudah merasa benar. Jika seperti itu, mungkin saja akhirnya anggota kelompok bisa patuh, tapi jangan harap kita bisa mendapat respek dari mereka.

Dalam kelompok informal, lebih repot lagi. Tujuan kelompok seringkali tidak jelas. Belum lagi bahwa kenyataan bahwa umumnya kelompok informal itu memiliki anggota yang tidak homogen (setara). Contohnya dalam kelompok pengajian saya itu. Kita pernah sepakat untuk mengadakan sebuah acara keluar bersama untuk lebih mempererat silaturahmi dan kebersamaan. Nah, sebagai pemimpin kan kita berusaha membantu anggota kelompok untuk mewujudkan tujuan tersebut. Dengan berbagai pertimbangan yang ada, kami putuskan waktu, biaya dan detil lainnya. Tapi ternyata sambutannya tidak seperti saat mereka keinginan terebut disuarakan. Rupanya berbagai kepentingan pribadi menghalangi anggota untuk berpartisipasi dalam acara tersebut.

Hmm…kok kesannya lebih banyak gak enaknya ya jadi pemimpin itu? Tapi mengapa banyak orang yang tetap mau jadi pemimpin bahkan berebut jadi pemimpin? Memang sebenarnya lebih mudah jadi pengikut. Tinggal ikuti aja kata pemimpin, beres. Tidak usah memikirkan bagaimana caranya mencapai tujuan tertentu. Tapi kita manusia punya fitrah untuk mencapai yang lebih baik atau menjadi yang lebih baik. Membiarkan diri kita berkembang berarti juga harus ikhlas menerima berbagai kesulitan. Dalam bahasa Inggris ada ungkapan ‘growing pain’. Itu adalah gejala yang sering terjadi pada anak-anak di masa pertumbuhan. Saya mengartikannya begini: bahwa untuk tumbuh (to grow) seringkali harus disertai dengan kesulitan dan/atau rasa sakit (pain). Dalam kepercayaan masyarakat kita pun, anak kecil yang mengalami kenaikan suhu tubuh (badannya panas) atau kesehatannya terganggu, sering dianggap dia mau tumbuh (bisa saja mau tumbuh gigi atau mau bisa jalan).

Jadi menjadi pemimpin dengan segala kesulitannya adalah upaya kita untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih berguna dan lebih berarti. Jadi pemimpin itu berarti orang lain (entah itu atasan atau anggota kelompok) telah setuju  bahwa kita bisa memimpin. At least pada saat awal. Kempimpin kita pada kurun waktu tertentu akan menentukan apakah orang lain akan berubah pikiran atau tidak.

Jadi pemimpin di lingkungan formal jelas punya daya tarik sendiri. One thing for sure, leader is paid more. Ada tunjangan jabatan. Apalagi jadi pemimpin di wilayah yang lebih besar (jadi lurah, camat, atau gubernur), wow…sangat menggiurkan. 

13 May 2008

Some weekend

Sabtu kemarin, aku ikutan acara jam session di Library@diknas Senayan. Jam 6.30 aku udah berangkat dari Sukabumi. Sebenarnya rencannya mau jalan jam 5.30 sih… but after taking care of some household stuffs, baru jam segitu bisa berangkat. Alhamdulillah, ternyata nunggu bis-nya gak lama. Masih dapet duduk lagi meskipun cuma dikit. Maklum bis-nya yg agak jelek, bangkunya sempit. Jalanan pun amazingly lancar. Hari yang cerah untuk jiwa sebenarnya lagi rada bete….

Di jalan, naik 2 orang ibu yang membawa 2 anak. Dari obrolann dan penampilan mereka, aku menyimpulkan mereka mau mengikuti sebuah acara atau anaknya mau pentas. Kasihan mereka gak dapet kursi. I wish I could give them my seat, but I brought heavy stuffs. Penumpang yang laki2 gak ada tuh yang tergerak untuk ngasih kursi. Mungkin mereka merasa sedang mencoba menikmati sebuah perjuangan yang berat untuk meraih mimpi sukses atau terkenal. Korban acara reality show TV yang lagi booming nih kayaknya…

Wah ternyata, yang dateng baru dikit. Surprisingly, mbak2 panitianya kenal aku. Tapi aku lupa siapa dia. Sorry, mbak….Terus ada Pak Bambang yg juga mengenaliku. Dia kerja di Al Azhar Kelapa Gading. Kamipun cerita-cerita tentang teman2ku dulu di sana dan suasana sekarang gimana. Ada juga Pak Henry dari Sekolah Mentari. Dia bilang, aku aktif karena mau dateng dari jauh. Ada Sulfan, Mas Hendro dll. Jadilah workshop tersebut cukup menyenangkan. The good start made my brain easy to accept the lesson. Sebenarnya aku laper dan haus karena cuma sarapan sepotong roti di bis dan belum minum (aneh, pagi itu pedagang asongan belum ada rupanya..) tapi kok belum juga break snack ya? Ternyata snacknya datang terlambat. Baru ada jam 11-an berbarengan dengan makan siang.

There’s something about the lunch here. Beberapa hari yang lalu aku lihat iklan Colonel Yakiniku dari KFC. Kupikir kayaknya enak nih…dah lama gak makan Japanese food. Pokoknya setelah tahu Hok-Ben gak punya sertifikasi halal, aku belum pernah makan Japanese food. Eh, sekarang makan siangnya ini menunya persis seperti yang aku bayangkan. Rasanya sih biasa aja. Nothing special, but at least I have tasted it. Jadi gak penasaran gitu. Tapi aku jadi inget Law of attraction…Coba aku bisa attract hal yang lebih besar lagi… But who knows….? someday I might be able to get all  of my dreams…Kalo Tuhan mengizinkan, apa sih yang gak mungkin?

25 Maret 2008

Pak Harto wafat

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun….
Hari minggu 27 Januari kemarin, aku di rumah seharian. Pengennya sih istirahat sehabis kerja keras ngurusin Seminar yang alhamdulillah berjalan dengan sukses. Tapi aku emang gak bisa diem, so I spent my morning by gardening. Taking care of my flower and plants that have ignored for a while. After finishing that, I realized that this week is my turn to clean up the house. So I swept and moped the floor, organized my room and my stuff.
At lunch time, after cleaning my self and praying, I turned on the TV. The news of the passing away of Pak Harto was on every channel of TV. It went on for the rest of the day and I guess almost all Indonesian people was stuck in front of the TV watching the news. Like me.

Keesokan harinya, aku sempat melihat acara pemakamannya, tentu saja melalui TV. Gak mungkin banget aku ke Astana Giribangun kan, he..he..he. Upacara pemakaman kenegaraan yang pertama diadakan dalam sejarah Indonesia. Presiden SBY membatalkan acaranya untuk membuka sebuah konferensi internasional di Bali, melayat ke Cendana dan besok paginya menjadi IRUP dalam upacara pemakaman. Selama ini baru 1 mantan Presiden RI yang meninggal, yaitu Soekarno. Saat beliau wafat, beliau sama sekali tidak mendapat penghormatan seperti ini. Maklumlah, beliau meninggal tidak lama setelah jatuh (atau dijatuhkan?) dari kekuasaan. Aku lihat anak-anak & cucu Pak Harto menghantarkan jenazah hingga ke liang lahat. Aku lihat makam yang mewah (sesuatu yang sangat mubazir sebenarnya), aku lihat rakyat yang ternyata masih banyak mencintainyai meskipun banyak juga yang masih merasakan sakit akibat perlakukaan beliau semasa berkuasa 32 tahun.

Although I’m not his fan, I couldn’t help to shed a little tears when I saw Mbak Tutut (his eldest daughter) gave a speech in the funeral. I though about my father, my parents. I’m not ready to loose them yet. Please God, don’t call them now. Not yet. Let them live a little longer for us to take care of them. Duh, kapan ya aku bisa ngurus mereka dengan sabar?…

30 Januari 2008

Pandora’s box

Apa itu kotak Pandora? Ya kotak milik Pandora. Dalam mitologi Yunani, Pandora adalah wanita pertama di bumi yang diturunkan oleh para Dewa. Ia diturunkan untuk diberikan kepada Prometheus, yang pernah dihukum dewa karena mencuri api milik para dewa (waktu itu cuma dewa yang punya api). Protemeus tidak mau menerima Pandora karena tahu bahwa para dewa tidak suka padanya. Dia curiga dewa punya maksud tertentu dengan memberi dia wanita cantik. Adiknya, Epimeteus, lah yang dengan senang menerimanya dan memperistrinya. Pandora itu ceritanya cantik sekali lho…

(ithacadwi.blogspot.com)

Anehnya para dewa itu kok ya, iri dengan kehidupan manusia di bumi. Mereka dengan isengnya mengutus Merkurius untuk memberi hadiah sebuah kotak hitam untuk Pandora. Kenapa saya bilang mereka iri dan iseng? Karena isi kotak itu ternyata bukan hal-hal yang baik. Sebenarnya, Pandora sudah diwanti-wanti untuk tidak membuka kotak itu (ngapain coba ngasih tapi gak boleh dibuka? Dewa yang aneh.. ) Tapi manusia itu kan rasa ingin tahunya tinggi. Begitu juga Pandora. Dan terutama mungkin wanita pada umumnya kali ya…? Dia coba buka kotak hitam berhias ukiran indah itu. Baru ngintip sebentar, keburu dipanggil Epimeteus. Tapi makhluk2 kecil di dalamnya ternyata dengan cepat keluar, menyebar dan menyengat Pandora, Epimeteus dan manusia lain di bumi. Makhluk tersebut adalah sifat buruk, penyakit dan kejahatan. Untungnya, ternyata para Dewa juga menyusupkan makhluk lain yang ternyata belum sempat keluar dari kotak itu. Makhluk itu adalah Hope, harapan. Saat kotak dibuka lagi dan Hope (harapan) keluar dari kotak, ia menghampiri dan mengelus-elus manusia yang menderita akibat sakit atau kejahatan. Jadi bagi merasa sakit, bersalah dan berbagai hal negatif lain, selalu ada harapan untuk sembuh dan menjadi baik lagi.

Dalam kehidupan kita, kadang-kadang ada sesuatu yang lebih baik tidak kita ketahui. Ada satu saat dimana satu hal baru terbuka buat saya. Suatu rahasia yang seharusnya tetap saja tersimpan di hati. Tapi ya itulah manusia, kadang tidak tahan untuk memendam sesuatu sendiri. Sesuatu itu mungkin indah dan menyenangkan jika waktunya tepat. Tapi sayang, sekarang sih sudah tidak ada gunanya. Keluarnya rahasia itu sempat membuat kacau perasaan saya. Lalu saya berusaha agar pikiran lah yang lebih berkuasa daripada perasaan. Saya sadar gak ada gunanya pikiran saya bermain main di arena “why this happened to me?” atau “what if..”
Gak gampang lho. Maklum lah saya perempuan,  makhluk yang kadang-kadang mudah terhanyut terbawa perasaan. Saya coba melihatnya dari sisi positifnya saja. Bahwa ternyata saya… 😉

Ada saat lain lagi dimana saya tahu orang lain mendapat perlakukan yang lebih istimewa, padahal seharusnya hak kami sama. Ini membuat saya merasa diperlakukan tidak adil. Padahal sebelumnya, saya baik-baik saja tuh ketika tidak mendapatkan hak tersebut. Tahu kan rasanya diperlakukan tidak adil? Pengen marah rasanya saat itu…

Sebenarnya tak ada yang salah dengan rahasia atau kenyataan itu, selama itu tetap tersimpan di tempatnya. Seperti halnya Kotak Pandora itu…

Ah, seandainya saja….

25 Maret 2007