Di Rumah Sakit

Saat menunggu pendaftaran untuk berobat di RS, iseng-iseng saya membandingkan jumlah orang yang berusia lanjut dan yang masih muda. Dalam satu deret kursi ternyata ada 23 manula, sedangkan yang masih muda cuma 10 orang. Dan wajah2 mereka terlihat cemberut, begini  :(  atau  😐 ,  atau ngantuk |-0
Ternyata orang yang sakit kebanyakan adalah mereka yang berusia lanjut. Wajarlah, dengan bertambahnya usia daya tahan tubuh menurun. Makanya mudah terkena berbagai gangguan kesehatan. Bukan saya takut tua, tapi saya tidak ingin hidup sampai usia tua. Semoga, begitu masuk usia pensiun Tuhan memanggilku

Berobat di RS umum (milik pemerintah) adalah rangkaian menunggu dan antri. Mulai dari saat mendaftar sampai mengambil obat. Apalagi hari itu Mama bermaksud operasi katarak. Dan Mama merupakan pasien yang menggunakan Askes. Jadi urutannya seperti ini. Minggu sebelumnya ke Puskesmas. Diperiksan dokter dan dirujuk untuk periksa laboratorium. Sebenarnya hasil lab sudah selesai dalam waktu 2 hari, tapi karena pada hari yang bersangkutan hujan lebat maka baru hari ini hasil lab nya diambil. Jadi hari itu, kami ambil nomor antrian untuk mendaftar. Dapat urutan 168 bagian C. Oh ya ada bagian A sampai F dan masing2 lebih dari 100. Setelah itu kami ke bagian lab. Ada 2 jenis pemeriksanaan yang Mama lakukan sebelumnya, yaitu pemeriksaan darah dan foto rontgen. Jadi perlu ke 2 loket yang berbeda. setelah itu antri cukup lama untuk mendaftar. Setelah mendaftar antri lagi lama di Poliklinik mata untuk diperiksa dokter. Di sini pemeriksaan ada 2 tahap, pertama di bagian baca huruf dan angka, setelah itu baru diperiksa dokter. Ternyata sebelum diperiksa dokter dibaca dulu hasil pemeriksaan sebelumnya dan hasil lab oleh perawat senior yang kemudian merujuk Mama untuk ke Poliklinik Penyakit Dalam. Di sini ternyata harus melewati 2 tahap juga, yaitu pemeriksaan tekanan darah oleh perawat, baru diperiksa dokter. Setelah diperiksa dokter Bagian Penyakit Dalam, ternyata berkas harus dikembalikan lagi ke Bagian Mata. Baru setelah itu ke Apotik khusus peserta Askes yang letaknya kira-kira 1 KM dari RS. Di sini dapat antrian ke 244 yang  bisa bikin bete kalau harus ditunggu. Si mbak apoteker pun sudah maklum, maka dia menawarkan: mau ditunggu atau ditinggal? Jadi bisa diambil sebelum tutup jam 9 malam atau esok harinya.

Hari itu pasien banyak sekali. Katanya banyak dokter yang sedang cuti. Maklum ini waktu Natal dan akhir tahun. Makanya saya salut melihat ada perawat yang masih bisa ramah dan tersenyum menghadapi pasien. Tapi ternyata seramah-ramahnya, jawabannya terhadap pertanyaan pasien standar, sama untuk berbagai pertanyaan, yaitu : Sabar ya Bu/Pak, tunggu dipanggil.
Memang dibutuhkan saling memahami. Rakyat Indonesia ini sangat banyak sementara fasiltas dan tenaga kesehatan tidak seimbang dengan jumlah rakyat yang harus dilayani. Orang sakit dan perlu berobat tidak bisa menunggu hingga musim libur usai. Apakah dokter dan paramedis juga tidak bisa menunngu cutinya? Entahlah mungkin memang mereka harus ambil cuti saat ini. Daripada stress atau kerjanya tidak beres. Yang pasti sebagai rakyat yang bergantung pada fasilitas kesehatan pemerintah, kita dituntut harus sabar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s