Mohammed

Ada salah satu episode film seri Dr Quin MD yang menarik perhatianku. Episode itu adalah episode ke-9 di season 1 yang berjudul A Cowboy’s lullaby. Bukan isi cerita yang menarik perhatian, tapi percakapan di awal cerita saat Dr Mike dan anak-anak sedang makan malam.

Saat itu, anak-anak sedang memperhatikan kartu nama Dr Mike yang baru datang. Seperti biasa Brian, selalu menanyakan apa arti kata atau istilah yang tidak dimengertinya. Misalnya dia menanyakan apa itu MD. Lalu dr Mike menjelaskan bahwa MD adalah singkatan dari Medicina Doctor bahasa latin yang berarti dokter di bidang kesehatan. Sebenarnya ada salah spelling dalam penulisan Colorado, tapi kata Dr Mike butuh waktu 4 bulan untuk memesannya lagi dari Boston. Dia tidak bisa menunggu. Banyak orang yang sakit, tapi enggan pergi berobat ke kota. Maka ia sendiri yang akan memperkenalkan diri ke masyarakat yang tinggal agak jauh dari kota. Dia lalu menyampaikan ungkapan (atau pepatah) yang menarik, yaitu “If the mountain won’t come to Mohammed..”, yang lalu dipotong oleh Brian yang menanyakan siapa itu Mohammed. Jawaban dr Quin sungguh bersahabat menurutku, dia bilang he’s a very wise man, yang sadar bahwa kadang-kadang dalam hidup ada hal yang harus dilakukan suka atau tidak suka.

Aku tertarik untuk membahas ungkapan dalam bahasa Inggris yang lengkapnya berbunyi: If the mountain won’t come to Mohammed, then Mohammed will come to the mountain.  Arti dari ungkapan tersebut adalah jika cara yang kita lakukan tidak berhasil, maka gunakan cara lain.

Ungkapan ini berasal dari tulisan Francis Bacon tahun 1625 yang berjudul The Essay. Dimana di situ diceritakan bahwa Mahomet atau Mohammed ingin menunjukkan bahwa dia punya kekuatan untuk memanggil siapapun termasuk gunung atau bukit.
Tentu saja cerita ini tidak pernah ada dalam sejarah Islam. Tapi buat saya cukup menarik bahwa ada pepatah yang menggunakan nama Mohammed dalam bahasa Inggris. Isi ungkapan tersebut sebenarnya tidak buruk atau menghina Nabi, meskipun jika kita telusuri awalnya berasal dari kisah karangan semata. Bukan dari sejarah Islam yang sebenarnya.

Advertisements

Dr. Quinn Medicine Woman

Sudah banyak episode serial ini yang menemani malam-malamku akhir-akhir ini. Bahkan kadang-kadang keasyikan nonton lebih dari satu episode sehingga tidur kemalaman. Dulu sekali waktu serial ini diputar SCTV, aku juga menontonnya secara rutin. Tapi mennonton lagi serial ini sekarang terasa berbeda. Hampir di setiap episode aku menemukan “sesuatu” yang berbeda.

Serial ini memang berlatar belakang kehidupan di Amerika di masa setelah perang sipil. Ceritanya tentang seorang dokter wanita yang masih sangat jarang di zaman itu. Tokoh utamanya, Dr Quinn,  memang digambarkan hampir sempurna: cantik, pintar, berani dan memiliki kepedulian tinggi pada sesama meskipun kadang keras kepala.

Dalam serial ini sering ada fakta sejarah yang disajikan. Misalnya tentang pembunuhan suku Indian oleh tentara Amerika. Tentang penyakit-penyakit tertentu. Tentang pemilihan umum, berdirinya bank, dan lain-lain. Masyarakat pada masa itu digambarkan masih terikat norma sosial meskipun ada juga yang menyimpang seperti pelacuran di Saloon (bar). Katanya sih, pelacuran hampir sama tuanya dengan peradaban manusia…

Aku suka cerita-ceritaanya. Bisa dijadikan pelajaran tentang situasi sosial. Bahkan aku ceritakan ke temanku yang guru Sosiologi bahwa film ini bisa digunakan jika perlu contoh sebuah proses sosial.

Nanti aku akan menuliskan yang hal menarik untuk diceritakaan dari serial ini. Saat ini sudah malam dan aku tidak mau kesiangan lagi seperti kemarin. Jangan sampai terlalu jauh escaping from my daily dull life. Not anymore. I’m not letting myself drifting away again.
So good night

Film vs TV

Sudah sebulan, aku hidup tanpa nonton TV. Mula-mula sih karena antena tv yang berubah arah karena tertiup angin sehingga gambar yang tertangkap jelek banget. Akhirnya kubawa tivi nya ke rumah baru agar tukang yang sedangan kerja disana bisa nonton tv di malam hari. Entah berhasil atau gak tuh pemasangan TV dan antenanya….

Aku tergolong orang yang rajin nonton tv. Tapi ternyata aku sama sekali tidak merasa kehilangan tontonan tv yang lokal yang acara nya kebanyakan sinetron tersebut. Aku fine2 aja. Dan banyak menghabiskan waktu malam ngenet atau nonton film di laptop.

Sementara itu, aku baru menemukan keasyikan mendownload film2 dari internet. Dulu sudah pernah mengunduh 1 season Dr. Quin Medicine Woman, yaitu season 4. Kemudia aku cari-cari film romance comedy seperti My Big Fat Greek Wedding, You’ve Got Mail, While You were Sleeping, dll yang rasanya wajib dikoleksi karena gak bosen ditonton berkali-kali.

Nantinya sih pengen juga langganan tv kabel lagi seperti dulu jika sudah pindah ke rumah baru. Itupun kalo masih pengen… Moga2 aja gak

Mendadak Tere Liye

Hari ini aku mendadak ke sekolah Albayan karena ingin menemui Tere Liye, penulis yang cukup produktif. Tidak sengaja juga tahu Tere Liye akan ke sini. Tapi pasti bukan kebetulan. Sejak aku ingin mengundangnya untuk acara Author breakfast di IASL Conference nanti, aku me-like page nya di Facebook. Di salah satu postingnya dia bilang akan ke Albayan Sabtu tgl 23 Februari. Langsung aku hubungi Heni, pustakawan Albayan. Dia mengiyakan dan mengundang untuk datang. Setelah ngobrol-ngobrol, Heni mengajak untuk sekalian membicarakan rencana kegiatan yang tertunda bersama beberapa teman lain yang bisa dihubungi. Aku pun mengiyakan karena seringkali waktu kami tidak klop. Jadi aku berencana ke Albayan dengan 2 agenda urgen dan penting: bertemu Tere Liye dan membahas rencana kegiatan.

Sebelumnya aku punya rencana makan siang bersama (botram) dengan man-teman tetangga di mess. Ketika kusampaikan agar acaranya diundurkan sampai besok, salah seorang temanku mengingatkan bahwa aku punya janji menemaninya mencari suatu keperluan. Aku sebenarnya bukan lupa sama sekali, tapi aku tidak ngeh kalau waktunya bersamaan dengan acara di Albayan. Kupikir rencana itu baru akan dilaksanakan sore hari.

Ternyata dia tersinggung. Terutama mungkin karena pada mulanya aku seperti melupakan begitu saja janji dengannya dan seperti tidak merasa bersalah. Ketersinggungannya lah yang membuat merasa sangat bersalah dan tidak enak hati. Meskipun kemudian aku minta maaf, aku tahu hati yang terluka tidak langsung sembuh dengan kata maaf saja.

Paginya aku telah bisa berpikir dengan lebih jernih dan bisa melihat bahwa apa kuanggap urgent itu sebenarnya waktunya bisa digeser sedikit sehingga aku masih bisa memenuhi janjiku. Tapi saat kutawarkan pada temanku untuk melanjutkan rencana yang batal tersebut, dia menolak. Aku sedih, tapi sadar bahwa hati yang telanjur terluka memang tidak mudah diobati.  Maka inilah hukuman untukku.  Tak apa. Ini pun pasti  masih belum apa-apa dibanding dosa dan salah yang kubuat. Tapi aku sudah bertekad untuk tidak membiarkan diriku terpuruk, merasa sedih dan bersalah berkelanjutan. Jadi rencana harus terus berjalan.

Bertemu Tere Liye ternyata menghasilkan lebih dari apa yang kubayangkan. Aku tidak berencana mengikuti acaranya. Hanya ingin menanyakan kesediaannya menghadiri acara nanti. Tapi ternyata dia  pun terlambat dan baru akan mulai acara setelah break makan siang & zuhur. Jadi sebelum acara, aku sempat menemuinya dan menyampaikan undanganku. Alhamdulillah, dia tidak menolak meskipun belum bisa memberi konfirmasi jika waktunya masih jauh. Dia minta aku mengirimkan proposal sebulan sebelum acara nanti. Setelah zuhur, akupun jadi mengikuti acara diskusi dengan tere Liye secara lengkap. Dan ternyata cukup menarik dan inspiratif.

Aku bukan fans-nya. Seperti yang diakuinya sendiri, novel tere liye itu bukan karya sastra. Hanya cerita yang kebanyakan tentang anak-anak dan keluarga. Kisah sehari-hari yang bisa terjadi pada siapa saja, Tapi dia mengambil sudut pandang yang berbeda sehingga menarik orang lain untuk membacanya. Aku pernah punya anggapan bahwa dia sombong. Tapi ternyata tidak.

Ada beberapa potongan kalimatnya yang terasa ‘kena’ dengan suasana hatiku. Misalnya saat dia menceritakan bahwa ada pembaca yang mengkritik ketidak konsistenan waktu di salah satu novelnya. Dia cuma dengan ringan berujar, “Novel itu kan hanya fiksi. Jika dalam dunia nyata saja kita bisa berbuat salah, apalagi dalam fiksi”. Jadi saat ini aku merasa bersalah seperti ini, ya terima saja. Akua cuma manusia. Bukan hal yang baru karena toh sebelum mendengarnya aku sudah mengikhlaskan rasa sakit karena merasa bersalah ini adalah sesuatu yang kutanggung. Tapi kata-kata itu terasa menguatkan dan menegaskan.

Aku pun jadi terinspirasi untuk menulis secara teratur. Bukan dengan tujuan untuk jadi penulis seperti dia. Tapi menulis adalah untuk mengeluarkan apa yang ada di kepala dan di hati. Buat terapi jiwa. Pasti kelak pun keihklasan menulis seperti ini akan diuji. Apalagi jika kita menuliskannya di media sosial. Kita mungkin akan berharap ada orang yang akan membaca dan memberi komentar yang menyenangkan. Mudah-mudahan aku bisa istiqomah menulis dan tidak berharap ada yang membaca atau berkomentar yang baik-baik saja. Harus siap ketika tidak ada yang pernah ‘ngeh’ dengan apa yang kutulis dan ketika ada yang baca lalu berkomentar buruk pun harus siap. Jadi ingat, beberapa hari yang lalumerasa sedih saat email2ku tidak ditanggapi oleh pihak yang berkepentingan. Berarti mulai sekarang tidak boleh begitu ya?…

Write, even if no one will read it
Write, even if no one will appreciate it
Write good things, even if some one will write bad things

An insight

Hari masih pagi, tapi ada hikmah yang harus kutangkap dan kuikat dalam tulisan kali ini. Hari ini aku kembali mendapat kesempatan menjadi fasilitator dalam sebuah Training of the Trainer untuk acara yang diselenggarakan oleh Pusbang Tendik, Diknas. Kali ini, aku hanya mengisi utk beberapa jam saja. Jadi hanya perlu menginap semalam. Aku sekamar dengan Bu Wayan, salah satu fasilitator kawakan yang sudah banyak terlibat dalam berbagai pelatihan yang diadakan Diknas. Beliau tidak hanya sebagai pengajar (fasilitator) pelatihan tapi juga terlibat dalam perancangan pelatihan tingkat nasional.

Kesempatan ini kupergunakan dengan banyak bertanya kepada Bu Wayan. Menurutnya, pelatihan yang diselenggarakan Diknas saat ini tidak lagi diselenggarakan secara asal-asalan. Prosesnya dirancang sebaik mungkin dan ada penilaian terhadap peserta. Peserta pelatihan harus melewati proses pelatihan secara penuh dan mendapatkan penilaian selama proses tersebut. Memang kehadiran bukan salah satu unsur yang dinilai, tapi jika karena ketidakhadiran ada tugas atau unsur penilaian lain yang tidak terpenuhi, maka mau tidak mau akan berpengaruh juga terhadap nilai yang akan didapatnya.

Bu Wayan menceritakan kasus-kasus yang terjadi dalam hal penilaian. Antara lain adanya kontradiksi antara meluluskan saja semua peserta atau tidak. Jika ada yang tidak lulus, ada biaya yang terbuang percuma dan dibutuhkan biaya lagi untuk mengulang pelatihan bagi yang tidak lulus tsb (biaya penginapan, transport, dll). Tapi untuk meningkatkan mutu, memang perlu pengorbanan dan biaya. Makanya beliau pernah kesal saat ada peserta yang menganggap enteng tugas yang diberikan dengan beranggapan bahwa tugas tsb tidak akan diperiksa dengan teliti.

Kami pun lalu berbagi cerita tentang tingkah laku peserta pelatihan sebelumnya, dimana kami sama2 jadi fasilitator. Misalnya yang sok tahu, suka mendebat, pesimis terhadap pelatihan dan hasilnya atau yang menganggap banyak materi pelatihan yang salah. Maklum lah banyak diantara peserta ini yang merupakan Widyaiswara. Bu Wayan sangat tahu bagaimana menghadapi mereka. Disinilah kelemahanku kelihatan. Jam terbangku sebagai fasilitator masih sangat kurang. Aku bisa terlibat disini mewakili asosiasi dimana aku jadi pengurusnya. Aku bahkan tidak punya latar belakang keahlian atau pendidikan di bidang training/diklat.

Yang lebih menohok adalah cerita bu Wayan tentang peserta yang curhat setengah protes tentang kualitas fasilitator di bidang perpustakaan. It could be me! Tapi aku jadi bisa melihat apa saja kekuranganku dengan kacamata yang berbeda walaupun sebenarnya aku udah sadar sih emang banyak kekurangannya. Aku jadi bisa optimis bahwa aku bisa mengatasi kekuranganku dengan kerja keras dan latihan. Selama ini aku terlalu fokus dengan materi yang aku sampaikan. Begitu takut salah. Jadinya aku tidak memberi penjelasan latar belakang, landasan filosofisnya dan tidak ada ice-breaker di awal atau setelah break. Di kelas aku hanya fokus pada beberapa peserta yang memperhatikan padahal mungkin banyak yang tidak memperhatikan karena bosan atau karena hal lain.

Bu Wayan juga mengatakan bahwa beberapa kali ia harus menjelaskan alasan dan latar belakang atau mematahkan argumen peserta yang bersifat negatif. Apalagi jika peserta tersebut juga berusaha mempengaruhi peserta lain dalam kelas. Beliau menyarankan agar aku belajar untuk memperbaiki tehnik mengajar. Aku bisa ikut pelatihan yang diselenggarakan di lembaga tempatnya bertugas. Untuk itu memang aku perlu mengajukan surat permintaan dari lembaga tempatku bekerja karena aku sebenarnya bukan sasaran lembaga tersebut. Apalagi aku bukan PNS. Meskipun tidak menjanjikan, dia meyakinkanku bahwa itu bisa.

Mataku jadi terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bisa kulakukan. Ada banyak hal-hal yang bisa kupelajari. Aku memang sedang ingin kuliah lagi. Bidang pendidikan bisa jadi alternatif, malah mungkin lebih feasible. Tinggal dipikirkan lebih jelas lagi program studi apa yang mau kuambil. Hmm…ini juga membukakan mataku untuk melihat hal-hal yang bisa kukerjakan jika aku terpaksa (eh gak terpaksa ding…tapi lebih memilih :D) meninggalkan kerjaku sekarang

ALRED

Sebagian hari ini dan kemarin, aku beres-beres file di kantor. Sebagian besar ternyata sudah perlu dibuang, termasuk diantaranya yang sayang untuk dibuang. Berkas-berkas tersebut membangkitkan kenangan yang bisa membuatku tersenyum ketika membacanya. Itu adalah berkas-berkas ALRED, Al Kausar English Department.

Aku telah bersama ALRED sejak pertama kali dibentuk. Entah apa sebenarnya posisinya dalam organisasi, yang pasti tugasnya adalah mengembangkan Bahasa Inggris agar dapat jadi Bahasa komunikasi sehari-hari di kampus Internat Al Kausar.  Kalo tidak salah ALRED dibentuk pada tahun 2002, jadi sudah hampir 10 tahun keberadaanya. Sudah berhasilkah ia mengemban tugasnya? Hmmm…

Jika dilihat situasinya sekarang, boleh dibilang tidak kelihatan hasilnya sama sekali. Sepanjang perjalanannya ALRED mengalami pasang surut. Ada saat dimana kondisinya cukup memuaskan, namun kalau boleh jujur, justru saat ini sepertinya ALRED sedang berada di titik terendahnya.

ALRED dibentuk untuk melengkapi pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Kita semua tahu bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan sebagai sekolah yang bukan ‘biasa-biasa saja’ kami ingin murid terbiasa berbahasa Inggris. Pihak Yayasan pun sangat mendukung upaya ini. Sejak lama, lupa persisnya,  pembelajaran bahasa Inggris di sekolah kami (dalam hal ini di SMP) diampu oleh native teacher, yaitu Bu Latifah Asikin. Beliau adalah seorang guru senior mantan guru JIS (Jakarta International School). Mungkin kalau mendengar namanya tidak percaya bahwa beliau berasal dari Jerman, karena Latifah adalah namanya setelah menikah dengan Pak Asikin.  Pernah juga kami mendapat tambahan guru bahasa Inggris dari Australia, Mr Ali D’arcy. Ini semua terwujud atas bantuan pemilik Yayasan yang secara personal mengenal kedua guru tersebut. Yang lebih seru lagi saat kami juga mendapat guru native yang muda dari Amrik. Timothy Choi namanya, yang kami dapatkan dari program teacher exchange-nya Fullbright Foundation. Jadi saat itu adalah 3 orang native speaker. Wow, hebat gak tuh…?

Tahun-tahun pertama ALRED adalah tahun yang penuh semangat. Waktu itu ALRED lintas unit, SMP dan SMA. Tentu saja murid dan gurunya tidak sebanyak saat ini. Pak Sugeng Santoso yang jadi Koordinatornya, yang mempimpin ALRED dengan penuh senyum dan semangat. Aku ingat diantara kegiatan kami waktu itu adalah studi banding ke Sekolah Pribadi di Depok dan bertemu dengan guru-guru asal Turki yang ganteng-ganteng
Kegiatan lain yang kuingat (karena berkasnya masih tersimpan) adalah diskusi di bulan Ramadhan, dengan judul Ramadhan on Talk. Aku ingat waktu itu menjelang buka. Grupnya sebagian besar murid SMP tapi ada mentornya yaitu murid SMA. Meskipun tidak semua lancer, tapi aku ingat mereka berusaha sebaik mungkin. Aku gak ingat ada yang ngomel atau bersikap negative lainnya. Paling-paling hanya pasif. Selain dalam kelompok kecil, kami juga secara berkala mengadakan English Contest yang biasanya berlangsung seru.

Pernah juga kami menyiapkan performance berupa drama dalam bahasa Inggris yang disiapkan dan dilatih oleh Bu Latifah. Tapi yang paling mengesankan dan membuatku bangga adalah saat aku menawarkan dan mengajak murid angkatan Sembilan untuk mengisi kegiatan English Club kami dengan sebuah project, TV English News Project. Idenya aku ambil dari sebuah buku. Dalam project tersebut, murid memilih (sebagian kupilih) perannya. Ada yang jadi pembaca berita, ada yang menjadi reporter, ada yang menyiapkan iklan dan memerankannya. Sayang, waktu satu semester tidak cukup untuk menyiapkan rekaman hasil kerja mereka. Tapi aku bangga karena hampir setiap minggu mereka sungguh-sungguh menyiapkan penampilannya. Mereka buat sendiri scenario untuk iklan, naskah beritanya dan naskah wawancaranya. Aku hanya mengarahkan dan membantu memperbaiki dari segi bahasanya.  Ah, angkatan 9 ini memang sangat istimewa.  Bagus, Juang and all of others, we proud of you, guys.

Setelah Pak Sugeng tidak lagi di Al Kausar, coordinator ALRED dipegang  oleh Pak Abdul Hadi, juga guru Bahasa Inggris. Aku pun sempat jadi coordinator saat guru bahasa Inggris yang menggantikan Pak Hadi masih belum familiar dengan department ini.  Tidak pernah ada masalah berarti, siapa pun yang menjadi koordinatornya. Kami saling bahu membahu menjalankan tugas dan target yang dibebankan di pundak ALRED. Anggotanya pun silih berganti sesuai keluar masuknya guru-guru Al Kausar. Ada yang tadinya boleh dibilang tidak bisa berbahasa Inggris, tapi beliau semangat dan rajin berlatih sehingga akhir cukup lancar dan pede berbahasa Inggris. Pernah juga ada romantic spark di sana, saat ada alm Bu Susan dan Pak Firman . Di setiap kegiatan ALRED yang besar seperti Contest, guru-guru lain pun ikut terlibat. Seru. Setelah itu kegiatan, biasanya kami membuat evaluasi di Sate Tegal Bahari, tempat favoritnya Pak Sugeng

Saat ini, ALRED hanya merupakan kegiatan SMP. Targetnya pun tak lagi jelas, tapi dipaksakan harus tetap berjalan. Murid-muridnya sudah tak bersemangat. Aku pun sudah bosan dan maunya mengundurkan diri. Tapi karena tidak ada lagi personil, dan masih ada rasa keterikatan karena sudah ikut sejak awal, mau tak mau kembali ikut ambil bagian. Yah, mudah-mudahan meskipun terseok, kami masih bisa jalan menyelesaikan tugas hingga semester ini berakhir. Mudah-mudahan di athun depan ada evaluasi dan pembaharuan agar tidak terpuruk seperti  ini. Mudah-mudahan ini  bisa jadi titik balik untuk ALRED beranjak naik lagi ke titik yang lebih tinggi.

New Year Resolution

Tahun baru tinggal beberapa hari lagi. Tapi bukan karena itu, aku lagi menyiapkan daftar “Things to do in 2012” . Entah kebetulan atau tidak, yang pasti aku lagi semangat pengen menjadi lebih baik. Gak nunggu 1 Januari 2012 sih, sekarang pun sudah pelan-pelan dimulai. Aku baru aja beranjak dari titik terendah semangat kehidupan. Beberapa waktu yang lalu aku dilanda rasa malas yang luar biasa. Malas untuk bekerja, merasa galau yang gak jelas, makan semaunya  juga malas beribadah kecuali yang standar2 aja (untung aja masih ada sedikit kebiasaan baik yang bisa dipertahankan).It felt like I have to drag myself to live through the day.

Ternyata capek juga berada di titik itu. Something has to be done. Gak bisa begini terus. Apalagi sekarang udah hampir liburan. Saatnya berbenah diri. Mumpung lagi gak banyak tugas. Sebenarnya, dari dulu seberapa pun tugas yang ada, gak pernah jadi masalah. Yang lebih sering jadi masalah adalah bagaimana menghadapi day-to-day routine dengan murid-murid. Sometimes they can really get on my nerve. Juga dengan suasana kerja yang gak bikin semangat sama sekali.  Tapi aku sadar, aku gak bisa merubah mereka atau keadaan yang ada. Akulah yang harus berubah, entah untuk sekedar bisa bertahan atau, syukur-syukur, bisa merubah keadaan menjadi lebih baik.

Untuk itu pilihannya adalah: aku harus jadi pribadi yang lebih kuat, pribadi lebih baik. So I start to think what can I do to accomplish this. Gak semua tentang “kerja” sih yang kupikirkan, aku juga memikirkan beberapa hal menyenangkan yang juga ingin kulakukan. Gak salah kan? Bukankah untuk jadi pribadi yang lebih baik, kita harus jadi pribadi yang berbahagia? Tapi saat memikirkan hal itu, ada beberapa hal yang agaknya saling bertentangan atau membuatku harus memilih mana yang harus didahulukan. Misalnya nih, tahun ini aku pengen traveling ke Padang, Singapur dan Malaka. Tapi di sisi lain aku harus berhemat, karena aku punya rencana yang lebih besar yaitu merenovasi rumah agar nyaman untuk ditempati. Belum lagi pilihan antara sekolah lagi atau umroh ya?

Kuliah lagi. Ini sebenarnya sudah lama jadi keinginan. Rasanya tahun ini harus bisa dilaksanakan. Tapi bersama itu ada serangkaian komitmen yang harus dipikirkan: Pertama dan yang paling besar BIAYA. Setelah itu waktu dan perijinan dari kantor tempatku kerja. Selanjutnya tenaga dan pemikiran. Apalagi aku juga punya komitmen di asosiasi profesi dimana aku jadi salah satu pengurusnya.

Hmmm…bingung jadinya. Confusing yet exciting. Year 2012 is getting closer but I still can not make up my mind to finish my new year resolution list. Gimana dong…?

28 Desember 2011