Belajar dari guru hebat

Arvan Pradiansyah, seorang motivator, pernah mengatakan bahwa orang brengsek adalah guru hebat dalam sebuah artikel yang ditulisnya. Mungkin kita pernah bertemu orang brengsek dalam kehidupan kita. Tapi sudahkan kita belajar darinya? Belum lama ini saya dipertemukan dengan guru hebat tersebut. Memang pada awalnya saya tidak sadar bahwa dia adalah guru yang hebat. Pertama-tama sih, saya cuma mikir dia adalah orang brengsek. Bisa-bisanya dia marah-marah padahal dia yang salah…

Kejadiannya berkaitan dengan milis yang saya moderatori. Saya pernah dan masih ikut berbagai macam milis. Tapi baru kali ini membuat account sebuah milis baru, jadi pemilik sekaligus moderator. Memang cuma dalam lingkup yang kecil yaitu hanya untuk teman-teman sekantor, tapi tetap butuh perhatian dan pengetahuan lebih dari sekedar jadi member.

Kejadiannya bermula dari munculnya sebuah posting yang berisi komentar terhadap posting sebelumnya. Masalahnya komentar tersebut ditulis oleh orang bukan yang anggota milis terbatas ini. Dia bisa masuk karena log-in dengan nama pasangannya. Orang tersebut memang baru menikah dengan dengan salah satu anggota milis. Kebetulan yang dikomentari adalah masalah yang cukup sensitif, masalah kepegawaian. Tapi sebagai moderator, saya tidak mempermasalahkan isi komentarnya. Siapa pun anggota milis ini sah-sah saja berkomentar tentang apa pun. Toh cara bagaimana dia memberi komentar, akan menunjukkan kualitas diri, dalam hal ini pikiran dan akhlaknya.
Bisa saja dia memberi komentar yang cerdas dan tajam tapi dengan kata-kata yang kasar ataunyelekit. Itu kan artinya dia cerdas secara intelektual tapi tidak cerdas secara emosional.

Kembali ke masalah di atas. Sebagai moderator saya memberi teguran terhadap penulis karena menurut etika dia tidak berhak berkomentar di forum dimana dia bukan anggotanya. Logikanya, jika dalam sebuah kumpulan keluarga sedang membahas masalah intern, eh ada yang nguping terus nimbrung ikutan komentar. Pasti semua sepakat bahwa itu sangat tidak sopan. Gak peduli omongannya benar atau salah. Nah, sebagai moderator, saya berhak dong memberi teguran..
Ketika setelah itu si member mohon maaf, no problem. Tapi ketika besoknya si penulis (pasangan member tadi) marah-marah tidak terima atas teguran saya, kesabaran saya sungguh diuji.

Tentu saja saya merasa sangat marah pada awalnya. Saya kan hanya menjalankan tugas sebagai moderator. Menegurpun sesuai dengan konteks. Tidak pake kata-kata yang mengandung unsur emosi (positif atau negatif). Lho kok yang bersangkutan malah marah melalui email yang dikirim secara pribadi kepada saya sebagai moderator dengan menggunakan kata-kata yang mengandung emosi dan menyulut emosi orang yang membacanya. Yah, memang sih semua terjadi secara online tidak secara fisik. Thank God for that.

Sesaat emosi saya tersulut. Untunglah ada teman yang bisa saya ajak curhat. Tidak lama  kemudian, saya bisa merasa lebih baik dan tidak perlu menanggapi apa pun. Tidak perlu memberi penjelasan seperti yang diminta penulis apalagi menanggapi tantangannya untuk bertemu. Tidak peduli (seperti ancamannya) jika saya akan kehilangan rasa hormat darinya. It’s fine if he doesn’t respect me.

Setelah beberapa saat berlalu saya pun mulai bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini,
terutama dari orang yang semula saya anggap brengsek itu. Masalah ini jadi ujian berharga
sebagai moderator. Dan yang lebih penting, sebagai pribadi saya belajar bagaimana menata hati, menahan emosi dan menahan diri untuk tidak bertindak atau berbicara dengan dasar emosi.
Saya yakin saya benar dan saya berhak untuk marah tapi saya bersyukur Tuhan menjaga saya untuk tidak berkata-kata dan bertindak dengan amarah. Apalagi setelah itu saya kebetulan membaca buku berjudul “Mengobati Penyakit Lisan”. Buku itu sangat menekankan pentingnya diam. Diam itu hikmah katanya. Menurut buku itu, perdebatan adalah salah satu penyakit lisan. Menurut riwayat sebuah hadis, jika kita meninggalkan perdebatan, meskipun kita benar, maka Allah akan memnbangunkan rumah di surga tertinggi.
Jika kita di pihak yang salah, Allah membangunkan kita rumah di surga yang rendah.
Tidak kurang ada 19 penyakit lisan yang dibahas buku itu. Diantaranya, ghibah dan perdebatan yang dibahas dengan cukup panjang lebar.  Ngeri juga membacanya, karena cukup menohok hati.Duh, ternyata begitu banyak salah dan dosa yang diakibatkan lisan yang tidak kita sadari…
Ini membuatku merasa tidaklah sepenuhnya benar. Maybe he’s not that jerk after all.
He’s just some one who doesn’t know how to behave. Sikap dan ketidak tahuannya mengajarkan saya bagaimana harus bersikap dalam masalah ini.

6 April 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s