Catatan liburan 2: KA dan persahabatan (lagi)

Stasiun-Cicurug

Naik kereta api…tut tut tut….

Yeay, akhirnya aku naik naik kereta Sukabumi-Bogor. Kereta Bumi Geulis ini baru beroperasi di jalur Sukabumi-Bogor yang sempat mati. Aku sebenarnya ingin mencoba jalur ini sejak pertama ke sukabumi, tapi hingga kereta di jalur ini berhenti beroperasi belum juga sempat. Dulu, kereta yang beroperasi adalah kereta ekonomi yang isinya campuran antara penumpang (manusia dan hewan) serta barang. Selalu penuh, tapi PT KA katanya rugi, karena banyak yang gak beli karcis. Itulah yang jadi alasan penutupan jalur ini.
Syukurlah, akhirnya pemerintah mau menginvest milyaran rupiah untuk membuka jalur ini kembali. Sayanglah infrastruktur yang ada kalau tidak dimanfaatkan. Belum tentu kita mampu buat jalur baru, makanya jalur yang ada harus dimanfaatkan. Apalagi jalur Sukabumi-Bogor, cuma ada 1. Memang rencananya akan ada jalur baru, yaitu jalur tol sukabumi-jakarta. Tapi kan gak berarti jalur kereta bisa digantikan.

Aku pilih naik kereta untuk mengunjungi Bu Gari di Depok. Meskipun sudah diperingatkan petugas bahwa kereta sangat padat hari itu, aku tetap nekat. Kupikir, kalo memang sudah tidak bisa barulah aku naik L-300. Lagian kapan lagi aku sempat? Aku sudah siap dengan segala resikonya.

Naik kereta api buatku punya sensasi tersendiri. Apalagi sesampainya di stasiun Cicurug (jam 5.30 pagi), kulihat stasiun ini persis seperti Stasiun Rendeh. Ini mengingatkanku pada liburan di masa kecilku. Naik kereta merupakan perjalanan yang menyenangkan buatku saat itu. Aku tidak pernah mabuk. Beda dengan naik bis, aku selalu mabuk dan muntah2. Ternyata pemandangan di jalur Sukabumi-Bogor ini, persis seperti gambaran di kenangan masa kecilku. Kereta meliuk melewati sawah-sawah dan kebun, kadang melewati celah yang cukup sempit. Anak-anak kampung memandang kereta yang lewat dengan penuh kekaguman. Sama dengan sebagian besar anak-anak yang naik kereta ini. Menurut orangtuanya, mereka pengen naik kereta. Jadi meskipun sangat padat, mereka tetap naik.

Kereta ini sangat padat. Aku beruntung bisa dapat tempat bediri. Meskipun setelah itu hampir tidak bisa bergeser sedikitpun. Aku tetap bisa menikmati perjalanan ini. Harga yang sepadan dengan nilai nostalgia dan sensasi yang kudapat.

Bertemu dengan bu Gari adalah salah satu kenikmatan bersahabat seperti yang kurasakan ketika bertemu Pak Sururi dkk. Kami bertukar cerita dan bertukar oleh2 he..he…he.. Aku bawakan Bu Gari tape. Aku ingat dialah yang memperkenalkan aku dengan tape Cibadak yang enak ini. Belinya di warung Mak Haji dekat rel kereta api. Bu Gari memaksa aku membawa duku, padahal aku berharap pulang dengan ringan karena perginya udah cukup berat bawa tape itu (karena buat 2 orang, bu Gari dan Dian, temanku yang sangat suka tape ini). Tapi aku ikhlas lho dengan semua kerepotan itu….

Ternyata liburan ini cukup membahagiakan. Aku punya teman-teman dan aku bahagia bisa memelihara tali silaturahmi diantara kami. Sayang, aku tidak sempat ketemu satu temanku lainnya yaitu Anik. Anik pulang dari Bangkok dan mampir di Jakarta untuk bertemu teman2. Sayang saat Anik di Jakarta aku belum libur. Next time ya Nik…Hope I can visit u someday…

8 Januari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s