Hampir saja….

Kemarin aku hampir aja mengalami musibah akibat kecerobohanku sendiri. Aku hampir aja kehilangan HP. Ceritanya begini: Aku kemarin dari rumah berangkat menjelang zuhur untuk balik ke Sukabumi. Kupikir kalo harus nunggu waktu zuhur masih lama. Biarlah nanti solatnya di akhir waktu. Apalagi perjalanan ke UKI lumayan lancar dan cepat. Aku mampir sebentar untuk beli buah. Selesai beli buah, ternyata bis ke Sukabumi tidak lewat di tempat biasa karena jalan sedang ditutup untuk acara gereja HKBP. Terpaksalah naik ojek. Langsung naik bis yang lagi ngetem. Di bis aku tertarik untuk beli jeruk shantang yang dijajakan tukang asongan. Nah, pas mau bayar aku sadar bahwa dompet/tempat HPku gak ada. Dengan agak panik, aku turun dari bis yang sudah akan berangkat. Tidak kupedulikan aku yang hampir jatuh karena sandalku licin dan bisnya tidak berhenti. Aku langsung naik ojek ke tempat tukang buah. Sempat agak lupa mana penjualnya, tapi akhirnya aku ingat. Untungnya, penjual buahnya masih menyimpan HP dan dompetku. HPnya dia kantongi, sementara tempatnya disimpan di tempat lain. Dan dia mengembalikan semuanya. Alhamdulillah, aku lega…dan berterima kasih pada Bapak penjual buah itu. Ternyata HP itu masih diizinkan Allah untuk jadi milikku. Aku langsung balik naik ojek tadi untuk ke tempat mangkal bis diiringi ceramah tukang ojek tentang rejeki, kejujuran tukang dagang ditempat itu, dll. Aku bersyukur masih lebih banyak orang baik yang kutemui.

Di dalam bis, aku duduk sambil merenungi segala yang baru saja terjadi. Ternyata memang segala sesuatunya terjadi bukan kebetulan. Allah sudah mengaturnya rangkaian peristiwa yang kualami sebagai pelajaran buatku. Ketika ku-cek HPku ternyata dalam keadaan mati atau dimatikan. Yang berarti kalau aku terlambat menyadari kehilangannya dan berusaha menelpon no ku sendiri sudah tidak bisa nyambung. Lagi2 aku bersyukur. Kalaupun si penemu (tukang buah) sempat berniat tidak baik, wajar aja. Seperti kata Bang Napi, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya. Tapi bisa juga karena ada kesempatan. Dan kecerobohanku telah menciptakan kesempatan itu. Untung Allah telah menggerakkan hati Bapak tukang buah untuk jujur.

Aku juga ingat, sekilas sempat terbersit rasa khawatir saat aku berusaha memasukkan buah ke tas ku. Saat itu aku harus merapikan isi tas supaya buah yang baru kubeli bisa masuk. Tempat HP terpaksa harus kulepaskan dari tangan sebentar dan kutaruh di meja buah. Saat itu aku khawatir lupa. Eh, kok malah bener2 lupa.

Menurut teori Law of Attraction, aku yang menarik (attract) musibahku. Mungkin pikiran itu terlintas pada saat aku berada pada frekuensi yang tepat, sehingga apa yang kupikirkan jadi suatu kenyataan. Lesson learned: berusahalah untuk selalu berpikir dan merasa positif!!

Sebenarnya ada beberapa hal kecil yang juga aku lupakan. Seperti kunci kantor yang tertinggal, charger HP ketinggalan di rumah dan cartridge kosong yang rencananya mau ku-isi ulang. Biasanya kalo aku sudah mulai banyak lupa seperti ini pertanda aku sedang stress. Mau tak mau aku harus mengakui aku sedang banyak memikirkan rencana kelanjutan pembangunan rumah. Aku memikirkannya dengan perasaan terbebani, khawatir, tidak enak dan berbagai perasaan negatif. Aku seharusnya mengikhlaskan saja apa jadinya nanti. Aku seharusnya menyerahkannya pada Allah. Ini semua terjadi karena hubunganku denganNya sedang tidak mulus. Ibadahku sangat minimalis. Ya, Allah terima kasih atas peringatanMU. I got Your message through this. Aku akan berusaha lebih dekat denganMu dengan memperbaiki ibadahku. Bantu aku ya Rabb….

2 Februari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s