Ciao Italy..!

Beberapa waktu yang lalu, aku seperti melihat hal-hal yang berbau Italy dimana-mana. Mulai dari buku tentang perjalanan (dan tinggal sementara) di Italy yang kutemukan di Book Fair, terus ada iklan cat yang ber-setting di Italy, liputan utama majalah National Geographic tentang Venice, dan beberapa hal kecil lainnya. Mungkin ini cuma kebetulan, tapi mungkin juga ini yang disebut selective attention. Dimana secara tidak sadar hal-hal yang berbau Italy menjadi perhatianku.

Menghadapi terpaan informasi atau tayangan berbau Italy membutuhkan perjuangan tersendiri buatku. Berjuang untuk tidak kecewa karena tidak jadi pergi kesana. Bagaimanapun yang selama ini kupunya barulah harapan, belum lagi jadi sebuah rencana.

Harapan ini muncul saat aku iseng-iseng mengirimkan paper ke Annual Conference-nya IASL, sebuah organisasi international untuk Pustakawan sekolah. Tak dinyana, paperku lolos dan berhak dipresentasikan di sana. Sayangnya, panitia tidak menyediakan akomodasi atau transportasi untuk menghadiri acara ini. Aku tahu sangat besar biaya yang diperlukan untuk bisa menghadiri acara tersebut. Tapi berkat semangatku saat itu dan dorongan beberapa orang, aku putuskan untuk memperjuangkan hal ini dengan mengajukan proposal ke beberapa pihak.

Pada mula banyak yang mendukung dan berjanji akan membantu aku mencarikan sponsor. Tapi ternyata mendapatkan sponsor untuk acara seperti ini tidak lah mudah. Bahkan pihak yang tadinya mendukung, ketika dikonfirmasi kembali jawabannya tidak jelas.
Hingga pada satu titik batas waktu tertentu aku anggap perjuanganku tidak berhasil. Kecewa? Sudah pasti. Tapi sebenarnya banyak hikmah dibalik itu. Misalnya saja, saat ini isu flu babi kan sedang hangat-hangatnya. Belum lagi kenyataan bahwa acara ini akan berlangsung pada bulan Ramadhan. Mau gak mau pasti ibadahku gak akan bisa maksimal jika aku pergi ke sana. Belum tentu juga aku bisa menikmatinya.

Aku jadi ingat sebuah cerita yang diposting di salah satu milis yang kuikuti. Ceritanya tentang seorang laki-laki yang sedang mengalami masalah keuangan terkena PHK. Setiap hari dia berusaha melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang bagi keluarganya.

Suatu saat ia keluar untuk mencari pekerjaan. Di jalan ia terantuk pada sesuatu yang ternyata adalah sekeping uang logam yang sudah penyok-penyok. Tapi dia pikir tak ada salahnya untuk dibawa ke bank dan menanyakannya pada teller di sana. Teller di bank menyarankan agar ia membawa koin tersebut ke kolektor uang kuno. Ternyata koin tersebut berharga 30 dollar. Lumayan, pikirnya. Dengan uang 30 dollat tersebut ia membeli kayu dan memanggulnya pulang. Di jalan ia melewati toko mebel. Pemiliknya toko mebel mengenali kayu yang dibawa di Bapak itu sebagai kayu yang bagus dan bermutu baik. Ia bersedia membeli kayu tersebut seharga 100 dollar. Si Bapak ragu, tapi si pemilik toko mencoba meyakinkannya dan menawarkan tukar dengan barang dagangannya. Akhirnya si Bapak memilih sebuah lemari untuk istrinya. Dengan meminjam gerobak dari toko mebel, ia membawa pulang sebuah lemari indah. Dalam perjalanan pulang, ia melewati rumah seorang wanita yang sedang mendekorasi ulang rumahnya. Melihat lemari indah tersebut, si wanita menawarnya seharga 200 dollar. Si Bapak ragu dan wanita itu menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Akhir ia melepas lemari tersebut kepada wanita tadi. Ia pulang dengan rasa tidak percaya bahwa di kantong sekarang ada uang 250 dollar. Ia berhenti sejenak untuk menghitung uang tersebut. Saat itulah ada penjahat yang melihatnya. Ia menodongkan belati, merampas uang itu lalu kabur.
Istrinya kebetulan melihat kejadian itu dari kejauhan. Si Ibu berlari mendekat dan bertanya, “Ada apa Pak? Bapak baik-baik saja kan? Apa yang dirampasnya?”.. Dengan mengangkat bahu si Bapak berkata, “Oh, itu hanya koin penyok yang aku temukan tadi pagi..”

Nah, aku seharusnya bisa bersikap seperti itu ketika menyikapi kehilangan kesempatan ini. Toh, yang kutemukan pada awalnya hanya harapan yang kemudian berkembang seperti rencana. Orang-orang sudah mulai menggodaku akan pergi ke Eropa, padahal belum jelas kepastiannya. Yah…Ciao Italy…Maybe someday I can visit you. Paperku bisa diterima di sebuah international conference aja sudah merupakan miracle buatku. Apalagi kemudian diikuti dengan rasa bahagia, syukur bisa punya mimpi dan harapan. Yang pasti aku berusaha agar sayap harapanku tidak patah dan suatu saat bisa membawaku benar-benar terbang mengunjungi bagian lain dari bumi Allah ini. Amin….

10 Agustus 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s