My mixed-up feeling

kebakaranasrama1Dua hari kemarin emosi-ku seperti diaduk2. Pertama karena ada musibah besar yg menimpa sekolah tempatku bekerja. Selasa sore sekitar jam 15.30 asrama putra SMP terbakar. Waktu itu aku sedang leyeh-leyeh sambil baca buku barunya Dewi Lestari (Dee) “Perahu kertas”. Tiba2 dari luar  terdengar suara pekerja bangunan yg sedang buat asrama putri dekat mess ribut berlarian ditingkahi suara boss-nya, Pak Muhammad yg teriak-teriak “ambil air! bawa ember!”. Semacam itulah.
Penasaran aku keluar. Ternyata mereka berlarian ke arah asrama putra SMP. AKu lihat ada asap putih keluar dari atap asrama sebelah kiri. Asap itu tipis2 saja mulanya, tapi tidak sampai 5 menit asap tersebut menyebar sampai diujung asrama sebelah kiri dengan lidah api menjulur keluar melalui ujung wuwungan atap.

Orang-orang mulai banyak belarian, termasuk anak2 SMP yang rupanya tadi masih di mesjid. Saudara bu Iha, ribut menyarankan agar kita nelpon Radio Elshinta agar mereka menghubungi Dinas Pemadan Kebaran terdekat. Aku sih mulanya gak terlalu mengacuhkan karena aku tadi sempat berpapasan dengan Pak Bahar yang bilang bahwa Pemadam kebaran sudah dihubungi. Tapi karena didesak terus Bu Iha, akhirnya aku ambil kunci kantor dan telpon 108 lalu telpon 113 untuk memanggil Pemadam kebakaran. Tepat seperti dugaanku, mereka bilang mereka sudah tahu dan mobil Pedamam sudah meluncur menuju Alka. Benar aja, begitu keluar kantor, aku dengar sirene mobil pemadam yang baru sampai.

Mulanya aku hanya menonton dari kejauhan, tapi melihat anak-anak aku jadi mendekat untuk bersama mereka. Beberapa anak kelas 7 tampak menangis. Aku berusaha menghibur sebisaku sambil menahan tangis yang juga ingin keluar.

Beragam reaksi murid-muridku. Di kelas 7 yang zona-nya terbakar habis, banyak yg menangis. Ada yg sedih melihat kejadian ini, ada yg merasa bersalah karena merasa jadi penyebabnya. Ini karena ada yg bilang api berasal dari kamarnya. Ada juga yang kesal karena dia merasa pembina lebih dulu diselamatkan barang-barangnya daripada barang2 mereka. Padahal Pembina yang ada di zona mereka pun tidak sempat menyelamatkan barang2 mereka.
Murid kelas 8 dan 9 agak sulit ditebak, tapi banyak yang kurang merasakan prihatinnya.

Ada anak yang membaca Al Qur’an. Ah, sweet Riza… Ada juga yang berusaha membesarkan hati adik2 kelasnya yang menangis.  Ada yang parah. Beberapa murid SMA tertawa2 melihat kejadian ini. Terutama saat proses pemadaman yg pada awalnya terlihat begitu lamban dan tidak sebanding dengan besar dan cepatnya api menjalar. Bu Latifah, guru asal Jerman itu, merasa kesal dan menegur mereka yang dianggapnya don’t know to behave in this situation. Tapi ada banyak juga murid SMA seperti Fariz dan beberapa temannya yg langsung memberi  bantuan menyelamatkan barang-barang sebisanya.

Sore itu kami berusaha melakukan apa yg kami bisa untuk membantu mengatasi masalah ini. Terlihat beberapa karyawan BUP yg masuk asrama membantu petugas Pemadan atau membantu menyelamatkan barang2 murid dan Pembina yang ada di zona sebelah kanan. Pak Her (supervisor Maintenance) bahkan sampai terluka tangannya kena pecahan kaca. Pak Habib (direktur kami), kelihatannya balik dari perjalanannya pulang ke Jakarta untuk langsung melihat dan membantu proses pemadaman dan pengamanan.

Tapi ada juga prasangka negatif yang tidak bisa dihindari melihat begitu banyaknya orang luar yang masuk. Penduduk sekitar melompati pagar, dan masuk untuk melihat kejadian dari dekat, sementara barang2 murid berserakan di lapangan depan asrama. Bisa mengundang niat jahat orang utk memanfaatkan keadaan. Aku berusaha mengingatkan anak2 untuk waspada, tapi entahlah  apakah mereka mengindahkannya atau tidak. Mereka tampak tidak fokus. Lagipula mereka memang kadang sering tidak peduli pada barang2 mereka sendiri.

Belakangan aku juga dengar desas-desus bahwa para ‘penolong’ juga ada yg mengamankan barang orang lain untuk diselamatkan buat dirinya sendiri. Mungkin karena merasa membantu kali ya jadi merasa berhak seperti itu…Ada juga yang katanya sempat2nya cari muka di depan owner dan menjatuhkan orang lain
Duh, betapa tipisnya antara yang hak dan yang batil…

Malam itu sebagian besar murid2 dijemput orangtua atau kerabatnya. Sisanya menginap di mesjid. Besoknya aku bergabung dengan guru2 yang membahas kembali kejadian tragis kemarin.  Di situ ada Pak Buya, Pembina asrama yang kehilangan semua barangnya. Kami juga membahas rencana2 yang berantakan. Aku sudah mendaftar untuk ikut Bookmark Project dan harus aku batalkan lagi. Ada lagi hal yang menyedihkan yang terungkap disini. Pak Yusuf menceritakan reaksi anak2 alumni yang baru saja lulus tahun ini di FB. Mereka banyak yang memberi komentar negatif. Ada yg menyukuri tapi bukan dalam arti positif, tapi nyukurin keadaan ini. Ada yg memberi komentar2 negatif tentang pembina. Kata2 yang digunakan sungguh tidak sopan dan tidak enak didengar. Orang lain bahkan ada menegur sikap mereka ini. Sedih mendengar hal ini.

Aku kerja sambil curi2 meneruskan baca buku “perahu kertas”. Ada rasa bersalah, tapi tidak mampu menahan godaan untuk mengikuti kelanjutan isi ceritanya. Sebenarnya udah pengen nulis ini, eh tapi siang itu kami diminta kumpul di mesjid oleh Pak Habib untuk membahas musibah yang baru saja kami terima.

Sorenya ada lagi yang bikin perasaanku dan orang di sebagian wilayah Jawa tegang. Ada gempa yang cukup besar terasa. Cukup lama pula. Aku yang kebetulan hrs kembali ke kantor mematikan komputer, sempat melongok ke MP dan FB. Ternyata org2 sudah banyak yg membahas tentang gempa. Baru terasa betapa ‘global’nya kami saat ini.

Malamnya aku kembali balik ke kantor ngambil buku yang belum selesai dibaca. Sekilas aku lihat asrama yang terbakar. Gelap. Ada perasaan teriris di dada ini. Malam itu kembali perasaanku diaduk oleh Dewi lestari melalui jalinan cerita “Perahu kertas” yang kubaca sampe jam 12 malam.

Huh…so much for the feeling these days.

Gambar diatas kuambil dr foto yg diupload anak2 di FB.

3 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s