Penilaian

Tanpa sadar kita sering menilai orang. Biasanya terjadi karena ada pengalaman baik atau buruk dengan orang tersebut. Secara sadar dan terstruktur dalam suatu organisasi, ada saat dimana kita diharuskan untuk menilai. Bisa jadi menilai sesama teman sejawat atau bawahan kita bahkan mungkin saja sesekali juga atasan kita.
Ini bisa jadi sangat subjektif, padahal kita dituntut untuk bersikap obyektif. Saat ini yang terjadi pada saya.

Penilaian karyawan di kantorku dilakukan setiap 6 bulan. Saya harus bersikap obyektif menilai performa staf saya selama 6 bulan. Padahal kecenderungannya kita hanya mengingat apa yang terjadi belakangan. Terus terang saya agak kecewa dengan performa mereka belakangan ini. Saat saya berusaha mengevaluasi, saya menemukan bahwa ternyata ada andil saya yang menyebabkan performa mereka turun.

Memang rasanya seluruh fokus hidup saya saat ini pada pekerjaan dan karir, tapi saya sadari bahwa akhir-akhir ini manajemen waktu saya sangat payah. Saya fokus mengerjakan hal-hal yang penting dan genting. (Kuadran 1 dari matrik manajemen waktu 7 habit). Saya seperti kecanduan urgensi. Atau…jangan-jangan memang begitu..karena saya sering merasa bisa bekerja dengan optimal jika dikejar deadline. Sepertinya adrenalin yang berpacu membantu keluarnya ide-ide untuk menyelesaikan masalah. Hal ini menyebabkan saya sering terlambat masuk kerja. Kadang saya berusaha menjustifikasi hal itu dengan pikiran bahwa saya kan sering pulang lewat dari jam kerja. Impas toh? Tapi itu jelas pikiran yang salah. Hal itu menunjukkan belum efektifnya saya bekerja dan me-manage waktu.
Mungkin ini yang dilihat staf saya. Mereka pikir, atasannya aja juga siang kok datangnya. Ingat keburukan lebih mudah terlihat dari pada kebaikan.

Well, diantara perkembangan mengecewakan yang terjadi dalam organisasi Yayasan dimana saya bekerja, saya bersyukur masih banyak hal-hal positif yang masih berjalan. At least buat diri saya pribadi. Misalnya proses evaluasi ini yang membuat saya juga mengevaluasi diri saya sendiri dan mendidik saya untuk berpikir obyektif dan positif. Kalaupun saya memberikan nilai yang kurang, bukan saya berpikir negatif tapi memang sesuai dengan keadaan. Yang mudah-mudahan membuat mereka sadar dan berusaha lebih baik.

Proses ini juga membuat saya terpacu untuk memberikan contoh yang baik dan arahan yang tepat bagi staf saya. Saya ingat atasan saya pernah bilang, seorang pemimpin berusaha membantu orang lain mencapai tujuan. Mudah-mudahan saya bisa memperbaiki diri untuk menjadi orang yang lebih baik dan pemimpin yang bisa dicontoh bawahannya.

11 Agustus 20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s