A trip to remember 2

Akhirnya tiket saya dapat. Tinggal cari mobil untuk mengantar saya ke Bandara, karena saya harus check in jam 4.00 pagi. Ternyata setelah rasa syukur yang saya rasakan, sepertinya yang lain pun mendukung usaha saya. Mobil saya dapatkan, begitu pula supir yang mau berangkat jam 2.00 pagi. Tinggal packing deh…

Eh, pagi itu ternyata mobil tidak bisa keluar dari garasi karena terhalang mobil lain. Terpaksa ketuk pintu orang di pagi buta untuk pinjam kunci. Tapi ternyata orang yang kami ketuk tidak pegang kunci, katanya kuncinya ada di sopir yang bawa mobil kemarin. Untunglah Satpam yang bertugas mau bantu untuk pergi ke rumah supir tersebut, meskipun ternyata kunci itu ternyata tersimpan di gudang. Andai saja saya bisa menghubungi pak sopir lewat telepon, tentu kami tidak perlu repot-repot ke rumahnya. Tapi rupanya teleponnya mati. Ah, memang jalannya harus begitu. Yang pasti saat itu saya sudah pasrah. Saya yakin, meskipun harus melewati jalan berliku, Allah akan memberi jalan keluar. Dan itu terbukti. Karena meskipun terhambat hampir 1 jam, saya masih belum terlambat check in. Saya pun sempat sholat subuh dengan tenang. Begitu selesai sholat, terdengar panggilan untuk segera masuk pesawat.

Ketika transit di Ujungpandang, saya sempatkan untuk menghubungi teman untuk kembali menanyakan contact person orang di daerah. Alhamdulillah, ketika mendarat di Ambon saya terima pesan berisi nomor orang tersebut. Segera saya hubungi yang bersangkutan untuk minta dijemput. Tapi ternyata tidak ada orang atau mobil yang bisa jemput saya. Saya diminta naik taksi saja. Mau tidak mau, sikap saya seperti kalau di Jakarta: harus tahu alamat jelas dan pilih armada taksi yang bisa dipercaya. Setelah diyakinkan kembali oleh penanggung jawab kegiatan, akhirnya saya naik taksi.

Setelah itu segalanya berjalan lancar-lancar saja. Bahkan saya masih dapat ’keajaiban’ dari sikap ikhlas dan pasrah yang berhasil tumbuh di hati saya. Ceritanya begini. Sessi saya ternyata selesai sore sekali. Padahal tadinya saya berharap cepat selesai agar saya bisa ke kota Ambon untuk beli oleh-oleh. Tapi karena tugas itu selesai dan saya begitu bahagia melihat kesuksesan dan semangat teman-teman di daerah, saya ikhlas kalau tidak bawa oleh-oleh dan tidak sempat lihat kota Ambon. Karena di daerah itu tidak toko yang menjual oleh-oleh khas Ambon. Tapi ternyata, ada panitia yang menawarkan untuk mengantar saya ke kota Ambon. Naik motor. Wah, sisi adventerous saya langsung muncul dan spontan saya iya kan tawaran tersebut. Jadilah malam itu saya bermotor ria menuju kota Ambon. Sayapun akhirnya bisa membawa oleh-oleh untuk teman dan keluarga. Lagi-lagi semua berkat kebaikan orang lain. Ternyata begitu banyak kebaikan orang lain yang menyertai perjalanan saya kali ini. Ya Allah, terima kasih karena telah Kau gerakkan hati orang-orang untuk membantuku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s