After 9 years…

Tanggal 1 Maret 2010 kemarin, tepat 9 tahun aku tinggal dan bekerja di sukabumi. Aku selalu merasa bahwa tangan Tuhanlah yang membimbingku ke sini sehingga sampai saat ini aku masih betah-betah saja tinggal disini.

Masih terbayang jelas bagaimana ceritanya aku bisa pindah ke kota, eh desa ini. Waktu aku ambil keputusan besar yang sebenarnya cukup riskan, yaitu aku keluar dari tempat kerjaku yang sebenarnya cukup menyenangkan juga. Riskan karena aku memutuskan keluar sebelum punya cadangan kerja lain. Keputusan itu kuambil bukan tanpa alasan dan telah minta pertimbangan dari Yang Maha Memberi Petunjuk. Saat itu aku merasa sudah tidak nyaman bekerja. Aku merasa diperlakukan tidak adil dan dicurigai karena sebuah kesalahan yang terjadi tanpa sengaja. Namun karena itu terjadi di ruanganku di meja kerjaku (meskipun bukan aku yg sedang duduk di situ saat itu), apalagi kesalahan tersebut ditemukan oleh orang yang memang tidak suka padaku, jadilah aku satu-satunya orang yang bersalah. Tidak adil karena sebenarnya banyak orang yang sengaja melakukan kesalahan serupa tapi tidak pernah ketahuan. Tidak adil karena setelah itu aku selalu dipandang dengan sorot mata  kecurigaan oleh beberapa atasanku yang bule. Aku tidak diberi kejelasan tugas, tapi saat ada pekerjaan yang tidak tertangani, aku yang disalahkan. Sungguh suasana yang tidak menyehatkan jiwa.

Aku mohon petunjuk lewat shalat istikharoh hingga aku merasa yakin bahwa mengundurkan diri adalah lebih baik daripada bekerja tanpa rasa nyaman. Setelah mengajukan surat pengunduran diri yang juga berisi sentilan terhadap yang berwenang, akhirnya aku bener2 jadi pengangguran. Rasanya gak enak banget. Aku masih tinggal di kost, tiap hari lihat teman2 berangkat kerja, aku jalan2 atau pergi ke warnet. Untunglah saat itu aku punya seorang teman yang meskipun gak pernah bertemua muka secara langsung tp selalu memberi dukungan dan menghibur. Aku juga sudah dapat restu orangtua sebelum resign. Itu semua yang bikin aku tahan jadi pengangguran.

Setelah sekitar 2 minggu setelah itu, temanku mengabarkan ada lowongan di sekolah yang  dipimpin kakaknya. Di sebuah sekolah boarding yg tempatnya cukup jauh. Proses aplikasi dan tesnya cukup cepat tapi tetap sesuai prosedur. Akhirnya aku diterima di sekolah itu. Aku sebenarnya diminta segera masuk, tapi  aku minta penundaan hingga awal bulan. Setelah itu aku masih ikut beberapa tes dan wawancara lain. Salah satunya yg juga sgt menarik adalah dari sebuah sekolah National Plus di Surabaya.

Pindahnya aku ke tempat baru ini cukup seru karena dianter teman2 se-kost. Tapi setelah itu aku mengalami semacam culture shock (kata teman2 sih istilah itu berlebihan, kayak aku pindah ke luar negeri aja..) Tapi emang beda banget lingkungannya. Dari lingkungan yg cukup banyak orang bule dan orang yg sikapnya ke’bule-bule’an, ke lingkungan yang religius banget. Dari tinggal di tempat kost yg sangat bersih (thanx to Mbak Ida yang sangat peduli kebersihan) ke rumah kampung yang lembab dan kamarnya mandinya bikin gak betah.

Banyak hal yang ternyata baru aku tahu di sini. Terutama soal tata cara hidup yang Islami, misalnya soal pacaran. Satu hal yg bikin betah adalah alamnya yg indah. Aku sering merasa hidupku saat itu berada pada episode “loneliness in paradise”. Yang paling bikin aku kehilangan, selain kehangatan persahabatan dg teman2 kost adalah event2 budaya yang dulu sering kukunjungi seperti pameran atau festival film.

3 tahun pertama, aku belum yakin akan menetap. Aku masih berusaha mencari kerja di Jakarta. Aku bahkan massh tetap ngajar privat murid di jakarta. Di akhir tahun ke-3, aku istikharoh lagi. Ternyata Allah menunjukkan bahwa di sini masih yang terbaik buatku hingga saat ini.  Setelah itu semua terasa lebih mudah dan aku makin betah. Beberapa teman dekat di sini malah satu per satu pergi mencari nasib yang lebih baik. Ada yang jadi PNS, menikah, melanjutkan kuliah, atau yang mendapatkan kerja yang lebih nyaman dan cocok buatnya.

Tapi aku msh bertahan. Bagaimanapun dari pilihan yang tersedia, tetap di sini yang masih terbaik buatku hingga saat ini. Aku mendapatkan kebebasan yang cukup untuk mengembangkan diri baik secara profesional maupun secara pribadi. Aku bisa mengembangkan hobi. Dan aku mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan sisi keagamaanku.

Tapi hidup tidak selamanya mulus. Aku juga banyak menerima masukan dari teman2 yang tidak se-ide dg bos-ku yg sempat membuatku goyah. Aku kadang mengalami kebosanan. Aku juga mengalami kemandekan dalam hubungan personal. Yah…C’est la vie. Yang pasti hingga saat ini aku merasa bersyukur dengan semua yang kudapatkan. Aku masih
berusaha dan berharap mendapatkan yang lebih baik, dengan mengerjakan yang terbaik yang aku bisa. Semoga Tuhan meridhoiku.

5 Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s