Being inspired

Pada suatu sore, kebetulan sekali aku bisa nonton Golden Way-nya Pak Mario Teguh. Biasanya saluran Metro TV tidak bisa tertangkap oleh  TVku yang sudah tua itu. Maklum lah sudah TVnya tua, aku tinggal di daerah pegunungan pula.  Jadi meskipun banyak “semut”2nya, lumayan lah bisa ditonton. Saat itu  episodenya tentang siap untuk dinilai lebih awal or something like that lah…

Ada satu hal yang entah kenapa masuk banget ke pikiran dan pemahamanku. Bukan materi utamanya. Waktu itu ada penelpon yang menanyakan pendapat Pak Mario tentang presiden SBY. Jawaban Pak Mario ini yang ternyata nyangkut dibenakku. Dia bilang bahwa dia mencoba untuk tidak menggigit yang tidak bisa dia kunyah. Seperti dalam lagu My Way-nya Frank Sinatra, “…when I bite off more than I can chew..”. Beliau menolak memberi komentar, karena tidak ingin bicara dalam ranah yang bukan bidangnya. Kalaupun dia punya penilaian sendiri, biarlah itu  untuk dirinya pribadi. Tidak ingin dia sampaikan di publik karena takut menjadi penghakiman. Kurang lebih begitu lah yang kuingat…

Kita seringkali tergoda untuk memberikan komentar mengenai sesuatu atau seseorang yang sebenarnya kita tidak faham sepenuhnya. Ada temanku yang ngomel panjang lebar setelah nonton film Sang Pemimpi. Menurutnya film itu kebanyakan ngomong, gak lucu, pemainnya jelek2…bla..bla..bla….. Aku cuma senyum2 aja.  Aku sadar bahwa dia berkomentar seperti itu karena dia tidak  bisa memahami isi film itu. Di benaknya masih terpatri film Laskar Pelangi yang memang lebih mudah dimengerti dibanding film ini.

Kemarin ada hal yang hampir saja membuatku berkomentar tentang sesuatu yang tidak aku ketahui alasannya. Ketika itu teman2 berkomentar tentang mereka yang tidak mengindahkan undangan seorang teman yang hari itu menikah. Aku hampir saja tergoda memberikan penilaianku. Untung aku ingat Pak Mario tentang biting off more than we can chew itu. Aku kan gak tahu alasan apa sehingga mereka tidak menghadiri undangan tersebut. Tapi pasti lah ada alasannya. Apakah karena udah bela-belain datang meskipun aku capek terus aku berhak menilai mereka dan menganggap aku lebih baik? Gak lah…
Aku cuma melakukan sesuatu yang kuanggap sebagai suatu kewajiban buatku. Ini masalah aku dengan Tuhanku, bukan dg siapa pun. Bahkan tidak dg si pengundang. Aku sempat berencana gak mau memenuhi undangan tersebut, tapi karena ingat itu adalah hak muslim terhadap muslim lainnya, maka aku putuskan untuk datang. Itulah alasanku. Orang lain pasti juga punya alasan dibalik tindakannya.

Ada orang yang diberi karunia oleh Allah sehingga kata-katanya bisa menjadi inspirasi orang lain berbuat lebih baik. Seperti Pak Mario itu. Meskipun aku bukan fans nya tapi saat itu ucapannya masuk ke dalam benakku dan jadi menjadi dasar aku bertindak, yaitu bisa membuatku menahan diri untuk tidak memberi komentar yang tidak perlu. Aku tidak menganggap kecil hal ini, makanya kutuliskan pengalaman ini disini. Karena menjaga lidah itu gak mudah. Apalagi kalo kita merasa benar dan orang lain salah. Semoga sebagaimana hal ini berarti buatku, Tuhan pun mencatatnya sebagai tambahan amal kebaikan Pak Mario.

Masih jauh buatku untuk berharap bisa seperti Pak Mario Teguh atau banyak org baik lain yang ucapannnya bisa menginsipirasi kita untuk menajdi lebih baik. Aku berharap setidaknya pikiranku dan hatiku selalu terbuka untuk bisa menangkap hikmah yang bertebaran di muka bumi ini. Darimana pun asalnya.

7 Februari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s