Menggenggam terlalu erat

Ada kata-kata bijak yang sering beredar di internet yang kira-kira mengatakan bahwa cinta itu seperti pasir, jika kita menggenggamnya terlalu erat akan keluar melalui jari-jari kita. Rupanya impian juga seperti itu. Paling tidak pengalamanku yang satu ini mengajarkanku begitu.

Ceritanya bermula dari kepergianku ke Makassar untuk melaksanakan tugas sebagai pengurus asosiasi profesi. Kali ini merupakan tugas daerah terakhir, yaitu ke Makassar. Rasanya gak nyangka aja bisa ke kota asal beberapa murid2 di sekolah. Mengingat ini adalah perjalanan dinas, aku udah gak berharap bisa mengunjungi banyak tempat. Tapi paling gak, Pantai Losari dan Studio Trans harus bisa kukunjungi. Karena letaknya masih di kota Makassar.

Tapi ternyata eh ternyata, tempat yang kutuju bukan di kota Makassarnya, tp sedikit di luar kota yaitu Maros yang dekat dengan Bandara. Dari sana ke kota ternyata cukup jauh, yaitu sekitar 1 jam perjalanan. Itu pun kalau lancar. Tapi gak masalah, aku toh terbiasa jalan lebih jauh dari itu (ke jakarat atau bogor dari tempatku). Sebenarnya aku agak cemas melihat jalannya acaranya yg lamban dan tidak tepat waktu. Khawatir gak kebagian waktu untuk explore Makassar, jika lihat waktu pulang yg telah kutetapkan semula. Aku pun mencari strategi agar punya waktu untuk jalan2 di kota Makassar. Akhirnya aku mengundurkan jadwal pulang 1 hari, walaupun untuk itu aku kena charge yg cukup lumayan. Aku berencana mau jalan sendiri dengan kendaraan umum. Meskipun orang-orang yang kutanya selalu bilang jauhnya jarak ke Kota Makassar, semangatku tidak surut.

Tapi (lagi), waktu pelaksanaan kegiatan sangat sangat molor. Harusnya jam 10-an atau paling lambat jam 12-an sdh selesai, eh molor sampe hampir jam 5 sore. Panitianya sibuk sendiri dengan kegiatan lain yang diselenggarakan secara bersamaan, jadi peserta dan aku berjam2 di ruangan seminar tanpa ada acara apa2 dan akhirnya sebagian kembali ke kamar masing2. Aku jd gak sabar dan cemas. Mana saat itu badanku sedang aneh, kalo cemas, stress atau capek, terasa gatal2. Rasanya sangat mengganggu.

Terbayang olehku tulisan PANTAI LOSARI, yang membuatku tekadku semakin kuta untuk bisa menyempatkan diri mengunjungi tempat itu. Ketika akhirnya acara selesai, aku terpaksa minta bantuan panitia untuk mengantar ke sana. Apalagi ada seorang kenalan, Ibu Hilda, yang bersedia mengantar. Dia juga nara sumber untuk acara ini, tapi jadwalnya baru besok.

Kubuang rasa tidak enak hati krn merepotkan 2 orang, Bu Hilda dan Pak Ilham (panitia). Kata Bu Hilda sih, gak pa-pa ..cuma sekali ini aja. Mulailah sore itu kami mengejar matahari. Ini karena kami berusaha bisa tiba di pantai Losari untuk melihat sunset. Meskipun sudah ambil jalan tol, ternyata tetap saja kami kesorean. Ketika sampai di Pantai Losari hari sudah gelap. Udah gitu kamera yang kubawa tidak bisa merekam. Waduh, tadi kan waktu dipake baik-baik aja. Setelah beberapa saat barulah aku lihat dimana masalahnya dan membereskannya. Ternyata kartu memory-nya terkunci. Setelah dibuka barulah bisa berfoto di depan tulisan PANTAI LOSARI itu.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan untuk beli oleh2 dan makan malam. Ternyata milih oleh2nya kelamaan, sehingga tiba di hotel sudah hampir jam 10. Capek dan ngantuk luar biasa, tapi harus packing untuk pulang besok pagi. Ada titipan minyak gosok dan kue dari peserta untukku yang langsung kubuka dan kupakai untuk mengatasi pegal dan gatal2ku. Terima kasih teman-teman Makassar. Akhirnya aku bisa lihat lihat pantai dan kota Makassar.Sayang Trans Studio tidak sempat kukunjungi.Kupikir2 mungkin karena aku terlalu erat menggenggam tekadku untuk jalan2 di kota Makassar itulah, makanya aku hanya mendapatkan sedikit saja dari kota tersebut. Coba, kalo aku bisa lebih ikhlas, mungkin segalanya akan lebih baik. Yang pasti sih lebih tenang aja. Begitupun, aku bersyukur sekali punya kesempatan jalan ke Makassar. Bertemu orang baru, menjalin pertemanan baru dan menemukan kebaikan2 dan hikmah yang terserak.

16 Juli 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s