Polisi?

Satu persatu kasus yang berkenaan dengan markus alias makelar kasus mulai terkuak akhir-akhir ini. Diantara kasus terbaru adalah adanya keterlibatan para jenderal berbintang di jajaran kepolisian yang disebut-sebut oleh mantan petinggi POLRI juga. Pihak kejaksaan disebut sebut juga terlibat. Buat saya pribadi wilayah hukum merupakan twilight zone atau wilayah abu-abu. Sebisa mungkin saya usahakan tidak perlu berhubungan dengan masalah ini. Bahkan untuk membuat surat keterangan kehilangan saja, rasanya malas saya pergi ke kantor polisi. Ini mungkin karena citra polisi yang ada di benak saya tidak positif. Waktu SD ada guru saya yang seringkali menyebut polisi (dalam hal ini polantas) sebagai prit gope. Mama saya juga selalu berpendapat bahwa anak polisi amat jarang yang ’bener’. Belum lagi kasak kusuk tentang polisi di daerah tempat tinggalku sekarang yang katanya biasa berkolusi dengan maling. Ini karena tidak pernah ada kasus pencurian atau perampokan yang bisa terungkap. Kecuali kalo kita membayar mereka.

Sebenarnya tidak adil menyamaratakan semua polisi. Saya yakin masih ada polisi yang baik dan jujur. Tapi ya itu dia, karena sangat sedikit agak sulit menghilang citra negatif tersebut. Di lain pihak, sebenarnya akhir-akhir ini upaya POLRI untuk membenahi citra mulai terlihat. Paling tidak di jalan saya melihat lebih banyak polisi untuk turun tangan menangani masalah kemacetan. Masalah menyuap polisi sudah agak jarang saya dengar, malahan pernah saya baca email yang telah diforward beberapa kali menganjurkan lebih baik kita ambil prosedur yang benar ketika kena tilang. Mudah dan yang pasti legal, katanya. Yang memforward kan berarti setuju tuh…Alhasil dengan semboyan quick wins yang tertera di hampir pos atau kantor polisi saya mulai melihat citra polisi yang lebih baik.

Tapi kemarin ada hal yang membuat saya kembali ingat citra polisi yang lama. Ini terjadi karena secara tidak sengaja saya menguping pembicaraan telepon seseorang dalam angkot. Mulanya saya yang hampir ngantuk mendengar suara sirene polisi yang tidak terlalu keras tapi seperti dekat. Setelah itu ada ucapan ”halo..”. Oh..ternyata itu suara ringtone HP dari penumpang yang duduk persis dibelakangku. Berikut ini adalah percakapan yang terdengar karena suaranya keras dan angkot pun sepi, dan yang bisa saya ingat. Tentu saja cuma dari satu pihak saja yang bisa saya dengar.

”Iya nih bos, saya lagi gak semangat…abis gak bawa mobil sih…”     ……….
     ”ini saya lagi di L-300. Nanti sekitar jam 9 sampe lah…”
    …………..
    ”saya tungguin sampe jam 6, belum juga dateng. Terpaksa lah saya naik angkot”
    …………….
    ”Iya, mobil dibawa ibunya anak-anak. Biasalah shopping2 mulu..ha..ha..ha..
    Ya udah harus ngalah”.
    …………
    “yang satunya lagi?….(gak jelas ngomong apa, tapi saya menduga2 si Bapak ini punya   
    banyak mobil)
   ” Oh yang BMW? Kan dibawa anak saya. …Yang satunya lagi, Innova dipinjam pembantu   
   saya. Iya, katanya pengen jalan-jalan. Ya udah lah..”

Sampe disini saya pikir, baik banget nih orang, mobilnya banyak tapi dia mau naik angkot. Mau minjemin mobilnya ke pembantu lagi.

”Iya nih, saya ada janji ama orang yang waktu itu ngambil motor. Katanya malam ini mau  
   ketemu. Awas aja kalo sampe gak dateng. Saya udah bilang, kalo gak datang, bener-bener saya jeblosin”…………….
   ”Atau kita bolongin aja ya satu kakinya..?”

Hah! Maksudnya apa nih? Ditembak? Waduh kok jadi serem sekarang. Pembicaraan berlanjut pake istilah-istilah yang gak saya ngerti. Tapi saya duga soal kekerasaan. Setelah itu saya tidak ingat persis, tapi kira2 seperti ini:

”kalo dia benar (datang), lumayan nih kita bisa happy-happy. Seperak dua perak dapatlah…
    ”Itu si Jamal suruh beli minum lah dulu…barang 5 botol lah…buat pemanasan, ha..ha..ha…”
     ……
    ”Apa? Ah, si Ayang sekarang gak pernah angkat telepon. …..Katanya ada di Singapura”

Pembicaraan diakhiri dengan janji si Bapak ini akan menelpon (ngebel katanya) kalau sudah sampai. Aku jadi membayangkan yang di belakangku ini adalah seorang polisi, punya banyak mobil, anaknya aja bawa BMW, istrinya seneng shopping (he..he..he… biasa kan perempuan suka shopping, apalagi kalo punya duit) tapi cukup baik dan perhatian sama pembantunya. Darimana dia bisa dapat semua itu? Ya dari kasus yang dia tangani. Dapat fee atau memeras mereka yang terlibat. Udah gitu punya (atau pernah punya) ’simpanan’ dan bersenang-senang dengan teman-temannya.

Wah, aku ini sebenarnya imajinatif atau su’udzon ya? Duh, ampun ya Allah kalo aku sudah bersu’udzon. Tapi gimana ya…otakkku ini seneng menebak-nebak dan mengaitkan fakta sepotong-sepotong jadi sebuah cerita atau informasi yang logis. Apalagi kalo lagi diam seperti di angkot semalam. He..he..he…justifikasi lagi.

12 April 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s