Reuni dan Memori

Memories, light the corners of my mind
     Misty watercolor memories of the way we were.
     Scattered pictures of the smiles we left behind
     smiles we gave to one another
     for the way we were.

Lagu Barbara Streisand itu seakan menjadi backsound saat kemarin pulang menghadiri reuni SMP. SMP bo! Sudah lebih dari  20 tahun kutinggalkan SMP. Makanya memori tentang teman2 dan peristiwa yang terjadi di masa itu seperti gambaran berkabut di benakku.

Banyak wajah yang tidak bisa kuingat dengan cepat, apalagi namanya. Pelan2 banget aku iingetnya. Bahkan ada yang baru kuingat dalam perjalanan pulang. Tapi aku langsung ingat beberapa orang yg kukenal dekat, seperti Wiwik sahabat karib di masa itu, Dayanah, Irma & Desi teman yg juga satu SD. Aku malah hampir tidak mengenali Iwan yang cukup dekat waktu SD, karena kami sama2 aktif di pramuka dan PMR. Aku massh inget banget kejadian waktu Jumpa Bakti PMR. Waktu itu kami kelas 5 atau 6. Anak perempuan seusia itu pasti kan mulai ABG sementara anak laki2 umumnya belum. Itulah sebabnya makanya aku merasa risih ketika kami berduaan di tenda (yg lain entah pergi kemana, aku gak ingat). Tapi si Iwan ini ya cuek2 aja…Malah dia heran kenapa aku nyuruh dia pergi. Iwan yang sekarang sudah jadi seorang Bapak2 berkumis dan berjenggot. Wajahnya mengingatku pada tokoh antagonis di sinetron. Jelas aja aku gak mengenalinya, karena sangat beda dengan kenangan yang ada di benakku.

Mengenai memory, ada short dan ada long  term memory. Menurut para ahli tubuh kita menyimpan memori dalam 3 tahap. Pertama, tahap sensori, kemudian menjadi memori jangka pendek dan sebagian memori menjadi memori jangka panjang.Ketika kita mendapat terpaan sesuatu,  informasi itu akan hal tersebut tersimpan di short-term memory. Tapi tempat penyimpanan short-term memori ini terbatas. Katanya hanya memuat 7 hal dalam 20 atau 30 detik. Jika informasi sering diulang atau digunakan  secara perlahan akan berubah menjadi long-term memory. Long-term memory ini memiliki kapasitas yang tak terbatas.

Kabar baiknya, katanya ternyata tidak ada orang punya ingatan (memori) yang jelek. Kebanyakan orang punya ingatan yang baik tentang suatu hal, tapi agak sulit mengingat hal lain. Nah, kayaknya inilah yang terjadi padaku saat reuni kemarin. Karena aku meninggalkan rumah (merantau tapi gak jauh), aku jarang bertemu dengan teman2 SMP ini. Juga hampir tidak pernah berhubungan dengan mereka. Yang ada, aku bertemu lingkungan baru dan menyimpan memori baru yang lebih sering di-retrieve (dipanggil ulang). Emosi juga ternyata punya pengaruh kuat terhadap memori. Aku merasa masa di SMP adalah masa-masa biasa. Sebagai ABG saat itu banyak perasaan yang tidak bisa kumengerti. Juga tidak terlalu bisa kunikmati. Aku cenderung pendiam, agak kuper dan sedikit minder. I wasn’t like any  other teenage girls lain yang ceria, cerewet, rame dan heboh. Sebenarnya it’s OK to be quiet tapi aku juga kurang PD saat itu.

Tapi ada beberapa kenangan manis yang msh kuingat dari masa itu. Misalnya waktu widya wisata ke Jogja. Aku duduk sendiri di bis karena sahabatku gak ikut. Karena itulah Pak Badru, guru muda yang ganteng, cool dan disukai teman2 perempuanku, akhirnya duduk di sebelahku ketika malam tiba. Dia tidak sengaja tertidur di pundakku. Dan aku langsung gak bisa tidur, bahkan bergerak pun takut. Kebetulan di luar jendela, tampak pemandangan alam di bawah bulan purnama. Makanya sampai sekarang kalo lihat sinar bulan purnama di dedaunan, aku ingat kejadian itu. Dan aku sangat suka lihat sinar bulan. Rasanya suka pengen menari-nari. Abis sih banyak lagu2 romantis tentang dancing under the moonlight…

Sebelum reuni ini, pikiranku direpotkan dengan persiapan yg tidak perlu. Aku mikir-mikir baju apa yang akan kupakai, apa yang akan kuceritakan jika ada sesi bercerita, bagaimana menjawab ketika temanteman nanyain soal berapa anakku….pokoknya hal-hal kecil spt itulah… Rupanya ketidak-PD-an kumat lagi. Aku merasa gak jadi apa-apa, gak kaya, gak sukses, gak cantik, walau sebenarnya aku bahagia dengan keadaanku saat ini. Sebenarnya minder itu timbul dari rasa sombong, tidak mau menerima kekurangan yang ada pada diri kita. Padahal tidak ada manusia yang sempurna. Eh salah…semua manusia diciptakan dalam keadaan sempurna untuk ukurannya masing2. Kalo kita menyadari hal itu, sebanrnya gak akan ada  rasa minder itu. So, mendingan kita teruskan lagu “the way we were”nya lagi yuk…

Can it be that it was all so simple then
     or has time rewritten every line?
     If we had the chance to do it all again
     tell me would we? Could we?
    
     Memories, may be beautiful and yet
     what’s too painful to remember
     we simply choose to forget
     So it’s the laughter we will remember
     whenever we remember
     the way we were…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s