An insight

Hari masih pagi, tapi ada hikmah yang harus kutangkap dan kuikat dalam tulisan kali ini. Hari ini aku kembali mendapat kesempatan menjadi fasilitator dalam sebuah Training of the Trainer untuk acara yang diselenggarakan oleh Pusbang Tendik, Diknas. Kali ini, aku hanya mengisi utk beberapa jam saja. Jadi hanya perlu menginap semalam. Aku sekamar dengan Bu Wayan, salah satu fasilitator kawakan yang sudah banyak terlibat dalam berbagai pelatihan yang diadakan Diknas. Beliau tidak hanya sebagai pengajar (fasilitator) pelatihan tapi juga terlibat dalam perancangan pelatihan tingkat nasional.

Kesempatan ini kupergunakan dengan banyak bertanya kepada Bu Wayan. Menurutnya, pelatihan yang diselenggarakan Diknas saat ini tidak lagi diselenggarakan secara asal-asalan. Prosesnya dirancang sebaik mungkin dan ada penilaian terhadap peserta. Peserta pelatihan harus melewati proses pelatihan secara penuh dan mendapatkan penilaian selama proses tersebut. Memang kehadiran bukan salah satu unsur yang dinilai, tapi jika karena ketidakhadiran ada tugas atau unsur penilaian lain yang tidak terpenuhi, maka mau tidak mau akan berpengaruh juga terhadap nilai yang akan didapatnya.

Bu Wayan menceritakan kasus-kasus yang terjadi dalam hal penilaian. Antara lain adanya kontradiksi antara meluluskan saja semua peserta atau tidak. Jika ada yang tidak lulus, ada biaya yang terbuang percuma dan dibutuhkan biaya lagi untuk mengulang pelatihan bagi yang tidak lulus tsb (biaya penginapan, transport, dll). Tapi untuk meningkatkan mutu, memang perlu pengorbanan dan biaya. Makanya beliau pernah kesal saat ada peserta yang menganggap enteng tugas yang diberikan dengan beranggapan bahwa tugas tsb tidak akan diperiksa dengan teliti.

Kami pun lalu berbagi cerita tentang tingkah laku peserta pelatihan sebelumnya, dimana kami sama2 jadi fasilitator. Misalnya yang sok tahu, suka mendebat, pesimis terhadap pelatihan dan hasilnya atau yang menganggap banyak materi pelatihan yang salah. Maklum lah banyak diantara peserta ini yang merupakan Widyaiswara. Bu Wayan sangat tahu bagaimana menghadapi mereka. Disinilah kelemahanku kelihatan. Jam terbangku sebagai fasilitator masih sangat kurang. Aku bisa terlibat disini mewakili asosiasi dimana aku jadi pengurusnya. Aku bahkan tidak punya latar belakang keahlian atau pendidikan di bidang training/diklat.

Yang lebih menohok adalah cerita bu Wayan tentang peserta yang curhat setengah protes tentang kualitas fasilitator di bidang perpustakaan. It could be me! Tapi aku jadi bisa melihat apa saja kekuranganku dengan kacamata yang berbeda walaupun sebenarnya aku udah sadar sih emang banyak kekurangannya. Aku jadi bisa optimis bahwa aku bisa mengatasi kekuranganku dengan kerja keras dan latihan. Selama ini aku terlalu fokus dengan materi yang aku sampaikan. Begitu takut salah. Jadinya aku tidak memberi penjelasan latar belakang, landasan filosofisnya dan tidak ada ice-breaker di awal atau setelah break. Di kelas aku hanya fokus pada beberapa peserta yang memperhatikan padahal mungkin banyak yang tidak memperhatikan karena bosan atau karena hal lain.

Bu Wayan juga mengatakan bahwa beberapa kali ia harus menjelaskan alasan dan latar belakang atau mematahkan argumen peserta yang bersifat negatif. Apalagi jika peserta tersebut juga berusaha mempengaruhi peserta lain dalam kelas. Beliau menyarankan agar aku belajar untuk memperbaiki tehnik mengajar. Aku bisa ikut pelatihan yang diselenggarakan di lembaga tempatnya bertugas. Untuk itu memang aku perlu mengajukan surat permintaan dari lembaga tempatku bekerja karena aku sebenarnya bukan sasaran lembaga tersebut. Apalagi aku bukan PNS. Meskipun tidak menjanjikan, dia meyakinkanku bahwa itu bisa.

Mataku jadi terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bisa kulakukan. Ada banyak hal-hal yang bisa kupelajari. Aku memang sedang ingin kuliah lagi. Bidang pendidikan bisa jadi alternatif, malah mungkin lebih feasible. Tinggal dipikirkan lebih jelas lagi program studi apa yang mau kuambil. Hmm…ini juga membukakan mataku untuk melihat hal-hal yang bisa kukerjakan jika aku terpaksa (eh gak terpaksa ding…tapi lebih memilih :D) meninggalkan kerjaku sekarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s