Catatan perjalanan pagi ini

Senin pagi ini, aku kembali menempuh perjalanan ke Sukabumi ba’da subuh seperti yang dulu sering kujalani. Di pertigaan Pupar, mobil berhenti karena lampu merah. Dari mobil terdengar suara zikir yang keras sekali yang tampaknya dipancarkan dari sound system sebuah mesjid yang kualitasnya bikin kuping sakit. Duuh…apakah harus sekeras ini mensucikan dan mengagungkan namaMu ya Robb…. ? Bagaimana dengan umat lain yang juga memuja namaMu dengan cara yang berbeda? Bisa mereka merasakan juga keagunganMu? Mudah-mudahan ini bukan yang terjadi setiap hari dan mudah-mudahan mereka memaklumi.

Kali ini aku memilih menggunakan busway ke UKI untuk nantinya naik mobil omprengan ke Ciawi. Baru mau keluar Pulogadung, hati ini dipaksa berlatih sabar. Hampir 20 menit bis Trans Jakarta stuck di depan terminal. Tidak lain karena tidak jauh dari pintu keluar terminal, mikrolet dan metromini ngetem seenaknya, tanpa memikirkan kendaraan lain yang sudah tidak sabar ingin keluar terminal atau…untuk ikutan ngetem juga…? Pak supir mencoba menghubungi bagian patroli meminta agar ada petugas yang mengurai kemandekan, tapi dia harus kecewa karena tampaknya tidak mendapat jawaban yang memuaskan.  Suara klakson yang meraung-raung akhirnya sedikit menguak kebuntuan jalan. Dan bis pun melaju kencang.

Kalo tadi otot sabar yang dilatih kali ini otot kaki. Jadi jalan pagiku kali ini adalah melalui jembatan penghubung halte busway BPKP dengan halte di jln DI Panjaitan yg menuju Cawang UKI (lupa nama haltenya). Lumayan panjang lho…mungkin lebih dari 300 m. Ternyata asyik juga menikmati pagi Jakarta dari atas jembatan.

Melewati pasar Prumpung sedikit, bis tiba2 berhenti disertai teriakan kaget beberapa penumpang. Sebagian bertakbir dan beristigfar. Rupanya di depan kami ada kecelakaan yang menimpa seorang anak kecil kira-kira 5-7 tahun. Entah kenapa gadis kecil itu sudah berada di jalan sepagi itu. Tidak tampak ada kendaraan lain dalam kecelakaan tersebut. Darah segar menggenang di jalan. Seorang laki-laki membopong gadis kecil itu. Mungkin untuk dibawa ke RS. Seorang laki2 penumpang bis berambut panjang dikuncir dan bertubuh tinggi besar, berulangkali beristighfar. Kelihatannya dia tidak tahan melihat kejadian padi itu, dia tampak menahan rasa mual dan tidak lama terduduk lemas. Ah, satu lagi laki2 bertampang Rambo berhati Rinto….

Buatku sendiri peristiwa itu jadi ajang latihan terapi yang baru saja kupelajari kemarin. Dalam pelatihan terapi Mahakosmos, diajarkan untuk tidak merekam hal-hal yang buruk dalam memori otak kita. Maka sepanjang jalan itu aku berusaha menerapkan ketrampilan tidak merekam kejadian itu dari sisi buruknya. Aku menduga gadis kecil itu adalah anak jalanan yang biasa ngamen. Melihat lukanya aku menduga anak tersebut mungkin sudah tidak tertolong. Jadi kubayang saja gadis kecil itu sekarang bernyanyi-nyanyi di taman surgawi bersama para malaikat dan bidadari. Tak perlu lagi dia memikirkan berapa yang harus dihasilkan dan disetorkan kepada keluarga atau seniornya di jalanan hari ini. Tak perlu ragi risau mau makan apa hari ini…Gadis kecil, semoga itu yang terjadi

26 Juni 2011

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s