@ Land of Oz – Part One: Sydney

Akhir September hingga awal Oktober lalu, aku berkesempatan berkunjung ke Australia, a Land of Down Under (paling bawah kan kalo di peta atau globe?). Meskipun cuma seminggu, it’s long time journey for me because the journey itself began a long time a go in my dreams. And when the hope came in, another journey take place: a journey to make it real. At last the real journey began.

Sejak lama, aku bermimpi bisa berkunjung ke Oz (Aussie). Ini adalah negara maju (barat) terdekat dengan Indonesia. Keinginan itu makin kuat saat aku bekerja di Australian International School (AIS) dan ditinggal oleh salah satu boss terbaik yang pernah kumiliki, Kerry Hargreaves. I promised her I would visit her some day. One way or the other. Saat itu mimpinya bisa mendapat beasiswa ADS untuk bisa pergi ke sana.

Tahun-tahun berlalu, kesempatan ke sana semakin sempit, tapi harapan itu tidak pernah mati. Apalagi ketika ada Ustad Ali d’Arcy, bule Muslim Australia yang menjadi native speaker di sekolahku. We became good friends as he stayed at the school house next to me and after he went back home.

Akhirnya kesempatan itu terwujud lewat Jean Lowrie Leadership Award yang kudapatkan sebagai anggota IASL (International Association of School Librarianship). Award ini memungkinkan aku mengikuti konferensi tahunan asosiasi ini, yang pada tahun 2010 bertempat di Brisbane, Australia. Perjuangan untuk dapat award ini juga sudah lama kuupayakan dengan mengajukan aplikasi sejak 2 tahun yang lalu. Tapi baru kali ini berhasil. Dengan mendapatkan award ini, aku dibebaskan dari biaya registrasi dan akan mendapat uang sejumlah US$1000 untuk biaya transportasi dan akomodasi. Memang gak cukup sih, tapi paling gak tambahan biayanya masih bisa diusahakan deh…Gak seperti tahun lalu, dimana aku dapat kesempatan untuk ikut konferensi ini di Padua, Italy, untuk mempresentasikan paper yang kukirim, tapi gagal berangkat karena tidak dapat sponsor. Ini karena biaya transportasi dan akomodasinya sangat besar.

Jika Allah memang sudah meridhoi, jalan untuk ke arah ini jadi lebih mudah. Banyak pihak mendukung dan membantu. Ada teman yang membantu memasukkan proposal ke PEMDA dan berhasil lolos berkat lobi beliau. Ada yang membantu ke Direktorat Tenaga Pendidikan, Diknas. Tanpa bantuan pihak2 ini, langkahku pasti terasa berat karena harus menanggung sendiri biaya awal dan kekurangannya. Semoga Allah membalas jasa mereka yang telah membantuku.

Ada teman yang berangkat bersama ke konferensi ini.Hanna, seorang teman sesama pustakawan sekolah yang banyak membantuku mengembangkan profesionalismeku di badang ini.

Kami berencana transit dan sOLYMPUS DIGITAL CAMERAtay sehari di Sydney sebelum ke Brisbane. Disana kami akan bertemu dengan mantan boss-nya yang akan menemani jalan2. Ternyata, boss-nya itu baik sekali. Namanya Monica. Bukan hanya sekedar menjadi guide, dia mengantar kita shopping oleh2 di Paddy’s Market, bahkan mentraktir makan siang yang sangat besar di sebuah restoran seafood di Harbourside. Setelah itu kita di antar cruising dari Circular Quay, melewati Harbour Bridge sampai ke Sydney Opera House, salah satu landmarknya Australia. Disana aku dan Hanna menikmati sunset dengan latar belakang Harbour Bridge dan suasana di pelataran Opera House yang kebetulan sedang ada panggung bebas.

 

Kami kembali ke Hotel Y@Hyde setelah gelap dengan perasaan capek tapi puas. Kami harus packing karena besok pagi2 sekali harus melanjutkan perjalanan ke Brisbane.OLYMPUS DIGITAL CAMERA

to be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s