Mendadak Tere Liye

Hari ini aku mendadak ke sekolah Albayan karena ingin menemui Tere Liye, penulis yang cukup produktif. Tidak sengaja juga tahu Tere Liye akan ke sini. Tapi pasti bukan kebetulan. Sejak aku ingin mengundangnya untuk acara Author breakfast di IASL Conference nanti, aku me-like page nya di Facebook. Di salah satu postingnya dia bilang akan ke Albayan Sabtu tgl 23 Februari. Langsung aku hubungi Heni, pustakawan Albayan. Dia mengiyakan dan mengundang untuk datang. Setelah ngobrol-ngobrol, Heni mengajak untuk sekalian membicarakan rencana kegiatan yang tertunda bersama beberapa teman lain yang bisa dihubungi. Aku pun mengiyakan karena seringkali waktu kami tidak klop. Jadi aku berencana ke Albayan dengan 2 agenda urgen dan penting: bertemu Tere Liye dan membahas rencana kegiatan.

Sebelumnya aku punya rencana makan siang bersama (botram) dengan man-teman tetangga di mess. Ketika kusampaikan agar acaranya diundurkan sampai besok, salah seorang temanku mengingatkan bahwa aku punya janji menemaninya mencari suatu keperluan. Aku sebenarnya bukan lupa sama sekali, tapi aku tidak ngeh kalau waktunya bersamaan dengan acara di Albayan. Kupikir rencana itu baru akan dilaksanakan sore hari.

Ternyata dia tersinggung. Terutama mungkin karena pada mulanya aku seperti melupakan begitu saja janji dengannya dan seperti tidak merasa bersalah. Ketersinggungannya lah yang membuat merasa sangat bersalah dan tidak enak hati. Meskipun kemudian aku minta maaf, aku tahu hati yang terluka tidak langsung sembuh dengan kata maaf saja.

Paginya aku telah bisa berpikir dengan lebih jernih dan bisa melihat bahwa apa kuanggap urgent itu sebenarnya waktunya bisa digeser sedikit sehingga aku masih bisa memenuhi janjiku. Tapi saat kutawarkan pada temanku untuk melanjutkan rencana yang batal tersebut, dia menolak. Aku sedih, tapi sadar bahwa hati yang telanjur terluka memang tidak mudah diobati.  Maka inilah hukuman untukku.  Tak apa. Ini pun pasti  masih belum apa-apa dibanding dosa dan salah yang kubuat. Tapi aku sudah bertekad untuk tidak membiarkan diriku terpuruk, merasa sedih dan bersalah berkelanjutan. Jadi rencana harus terus berjalan.

Bertemu Tere Liye ternyata menghasilkan lebih dari apa yang kubayangkan. Aku tidak berencana mengikuti acaranya. Hanya ingin menanyakan kesediaannya menghadiri acara nanti. Tapi ternyata dia  pun terlambat dan baru akan mulai acara setelah break makan siang & zuhur. Jadi sebelum acara, aku sempat menemuinya dan menyampaikan undanganku. Alhamdulillah, dia tidak menolak meskipun belum bisa memberi konfirmasi jika waktunya masih jauh. Dia minta aku mengirimkan proposal sebulan sebelum acara nanti. Setelah zuhur, akupun jadi mengikuti acara diskusi dengan tere Liye secara lengkap. Dan ternyata cukup menarik dan inspiratif.

Aku bukan fans-nya. Seperti yang diakuinya sendiri, novel tere liye itu bukan karya sastra. Hanya cerita yang kebanyakan tentang anak-anak dan keluarga. Kisah sehari-hari yang bisa terjadi pada siapa saja, Tapi dia mengambil sudut pandang yang berbeda sehingga menarik orang lain untuk membacanya. Aku pernah punya anggapan bahwa dia sombong. Tapi ternyata tidak.

Ada beberapa potongan kalimatnya yang terasa ‘kena’ dengan suasana hatiku. Misalnya saat dia menceritakan bahwa ada pembaca yang mengkritik ketidak konsistenan waktu di salah satu novelnya. Dia cuma dengan ringan berujar, “Novel itu kan hanya fiksi. Jika dalam dunia nyata saja kita bisa berbuat salah, apalagi dalam fiksi”. Jadi saat ini aku merasa bersalah seperti ini, ya terima saja. Akua cuma manusia. Bukan hal yang baru karena toh sebelum mendengarnya aku sudah mengikhlaskan rasa sakit karena merasa bersalah ini adalah sesuatu yang kutanggung. Tapi kata-kata itu terasa menguatkan dan menegaskan.

Aku pun jadi terinspirasi untuk menulis secara teratur. Bukan dengan tujuan untuk jadi penulis seperti dia. Tapi menulis adalah untuk mengeluarkan apa yang ada di kepala dan di hati. Buat terapi jiwa. Pasti kelak pun keihklasan menulis seperti ini akan diuji. Apalagi jika kita menuliskannya di media sosial. Kita mungkin akan berharap ada orang yang akan membaca dan memberi komentar yang menyenangkan. Mudah-mudahan aku bisa istiqomah menulis dan tidak berharap ada yang membaca atau berkomentar yang baik-baik saja. Harus siap ketika tidak ada yang pernah ‘ngeh’ dengan apa yang kutulis dan ketika ada yang baca lalu berkomentar buruk pun harus siap. Jadi ingat, beberapa hari yang lalumerasa sedih saat email2ku tidak ditanggapi oleh pihak yang berkepentingan. Berarti mulai sekarang tidak boleh begitu ya?…

Write, even if no one will read it
Write, even if no one will appreciate it
Write good things, even if some one will write bad things

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s