Jakarta at its best. Part 2

Hari minggu ini agendaku adalah mengunjungi Festival Desa di Bumi Perkemahan Ragunan. Gak sengaja lho tahu acara ini saat lagi browsing di google group. Tapi karena juga perlu cari renda hitam di pasar Sunan Giri, aku gak bisa berangkat terlalu pagi. Kan pasar baru buka jam 10. Setelah berhasil mendapatkan renda, langsung deh meluncur ke Ragunan menggunakan bus TJ (Trans Jakarta). Wah, hari minggu memang koridor 4 ini sering penuh dengan keluarga yang bawa anak-anak. Kebanyakan mereka akan mengunjungi Kebun Binatang Ragunan. Tapi kali ini juga banyak AGB centil yang sering ribut dan norak. Gak ABG sih sebenarnya mereka itu, kayaknya udah kerja. Tapi norak dan centil.

Ternyata Festival Desa di hari ke-2 itu sepi. Acara ini memang cocok untuk keluarga. Anak-anak bisa main berbagai permainan tradisional, yang ibu-ibu bisa mengenal aneka makanan lokal yang sehat dan Bapak-bapak…ngapaian ya? Hmmm ya, makan makanan lokal dan diskusi masalah lingkungan. Di stand Kehati aku (lagi2 ) ikut kuis. Kali ini kuis tebak kacang. Gampang…. cuma memberi nomor yang sesuai dari daftar nama kacang yang ada. Aku tahu semua jenis kacang yang ada disitu. Lalu aku lihat demo masak brownis dengan menggunakan tepung pisang. Setelah itu ngobrol dengan presenter dari Kehati mengenai umbi-umbi asli Indonesia yang dapat dijadikan alternatif bahan pangan selain beras dan gandum (terigu). Sayang tepung-tepung dari ganyong, garut, ubi, singkong dll itu tidak mudah didapat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gak lama disana aku lanjut ke Bogor menggunakan kereta commuter line yang menggunakan tiket elektronik itu. Petualanganku belum selesai. Agenda selanjutnya adalah cari tanaman ke jalan Pajajaran. Aku gak tahu cara tercepat dari stasiun ke jl Pajajaran. Yang kutahu itu dekat Jambu Dua, jadi aku cari angkot ke arah jambu dua. Aku bersiap untuk kesasar kalo memang harus. Tapi rasanya aku di jalan yang benar. Memang ada penjual tanaman hias juga di jalan yang dilewati angkot yang kunaiki. Tapi karena tampaknya kurang menarik, aku gak turun. Tetep ke tujuan semula: tanaman hias di jl Pajajaran.

Disana aku dapat 1 pot Petunia, 2 pot Vinca (tapak dara) dan 2 pot Krisan. Semuanya Rp 35.000. Oke, mission accomplished. Saatnya pulang. Balik lagi ke statiun Bogor karena mau naik KA Pangrango, Tapi ternyata aku harus kecewa karena tiket sudah sold out! Waduh, terpaksa deh naik angkot lagi ke Sukasari. Angkotnya berisi orang berukuran besar dengan bawaan yang juga besar2. Jadi meskipun tidak sepenuh kapasitas, angkot itu penuh sesak. Jalan dari Sukasari hingga Cicurug lumayan lancar. Akhirnya petualanganku weekend itu berakhir dengan cukup memuaskan. Aku sedari pagi sebenarnya membayangkan akan menikmati akhir perjalanan dengan kereta sambil menulis status Fb seperti ini ” dan petualangan weekend ini berakhir dengan duduk manis di KA Bogor – Sukabumi” tapi ternyata hal itu tidak terwujud. Tapi secara keseluruhan weekend ini cukup menyenangkan. Jakarta lagi ramah dan menarik dengan berbagai event2nya dan perjalanan cukup menyenangkan dengan transportasi umum yang lumayan lagi bagus (gak macet atau ada gangguan yang berarti).

Jakarta at its best : a weekend note. Part 1

Sebenarnya saya males banget ke Jakarta weekend ini mengingat di Caringin ada jalan yang longsor sehingga bikin macet. Tapi karena ada beberapa keperluan dan event menarik, tampaknya harus nih. Apalagi ingat ada alternatif transportasi lain yang akan mulai beroperasi tanggal 9 Nomber 2013 ini, yaitu kereta api Pangrango, jurusan Sukabumi – Bogor.

Maka sabtu pagi itu, aku berangkat jam 5.30 pagi dengan harapan bisa naik kereta jadwal pertama. Tapi juga sudah bersiap sih, kalo ternyata keretanya gak ada, ya sudah naik angkot saja. Toh masih pagi, jadi mungkin belum terlalu macet. Benar saja. Sesampai di stasiun Cicurug, ternyata katanya kereta baru akan ada pada jadwal ke dua yaitu jam 11. Ya sudah, balik kanan.. seperti hal nya beberapa calon penumpang lain.

Jalan Cicurug – Ciawi lumayan lancar, kecuali macet setelah SPN sampai selepas jalan yang longsor di Caringin. Lumayan, jam 7-an sudah sampai Ciawi. Terus ke UKI, dan naik bus Transjak ke Senayan. Ternyata Book Fairnya belum buka. Akhirnya kuputuskan untuk ke Nova Ladies Fair dulu deh. NLF berlangsung di Plaza barat Senayan. Kupikir itu di sebelah Istora, tapi ternyata adanya di sisi lain Gelora Senayan. Jadilah aku jalan setengah putaran Gelora, melewati semacam pameran otomotif yang kebanyakan peserta dan pengunjungan kaum Adam. Dari situ aja sudah merasa beda sendiri eh, lewat gelora tambah merasa saltum. Abis yang lain ke situ untuk berolahraga pasti berkostum olahraga. Baru tahun kalo ternyata fasilitas olahraga untuk masyarakat disana bagus lho. Ada beberapa alat fitness seperti ini:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ternyata, aku masuk dari pintu belakang NLF. Oleh petugas aku diminta beli tiket baru boleh masuk lewat pintu belakang. Karena tujuan utama kesana adalah untuk kopdar dengan komunitas Muslimah Backpacker, aku pun menghubungi Mbak Ima untuk mendapatkan undangan.  Agak lama kutunggu, lalu kupikir daripada merepotkan orang untuk cari-cari aku mending beli aja tiketnya. Ternyata Cuma Rp 10.000 saja…Eh, ternyata lagi…ada anggota MB yang sebenarnya sudah cari-cari aku bahkan sempat kulihat, tapi gak tahu kalo Mbak Teti itu MBer yang lagi cari aku.

Setelah lihat-lihat dan ngobrol dengan Mbak Ima di stand MB, juga ikut kuis-nya (dan bisa menebak dengan benar!), aku keliling stand-stand yang ada. Banyak makanan yang menarik, tapi mau beli berat. Karena udah tertarik dan membeli nasi uduk ungu instan yang lumayan berat. Oh, ya…aku juga mampir ke stand Microsoft yang sedang mempromosikan Window 8.1. Menarik, atraktif dan cepat tapi rada bingung pakenya karena belum terbiasa. Setelah mengisi kuesionernya aku ternyata beruntung dapat voucher belanja Carrefour sebesar Rp 100.000. Yaayyy…baru kali ini menang undian seperti ini. Alhamdulillah. Aku juga lihat demo masak dengan Chef Ari Galih. Cuma ikutin satu resep aja sih, abis itu balik ke Istora untuk lihat Indonesian Book Fair. Melewati jalan yang sama.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di IBF udah merasa capek, jadi agak kurang semangat. Eh, disana ketemu lagi sama Tere Liye. Dia masih kenal (inget) aku ternyata. Tentu saja, tidak lupa minta tanda tangan untuk buku terbarunya, Amelia. Setelah sholat, aku cari tempat duduk untuk makan snack yang didapat dari NLF. Nyesel gak beli makanan lain disana. Padahal banyak yang menarik sebenarnya Eh, ada insiden kecil yang bikin kepala pusing (selain capek). Mataku yang baru agak baikan, kecolok kertas brosur. Aduuuh perihnya. Terpaksalah cari tempat duduk untuk meneteskan obat dan menunggu sakitnya reda.

Setelah itu, udah gak kuat lagi muter-muter stand yang ada. Pulang aja, naik taksi.

To be continued….