Pohon Seri sahabat anak-anak

Sudah beberapa bulan ini, aku tinggal dan menempati rumahku. Rumah yang dibangun sejak sekitar 3 tahun yang lalu ini dengan keringat dan air mata (lebay…emangnya ‘mbangun sendiri?), kuputuskan untuk kutinggali sendiri setelah sebelumnya disewakan ke seorang teman kantor. Semula sih maksudnya sesekali aja hanya akan sesekali aja diinapi, karena aku kanmasih punya jatah mess dari kantor sambil nunggu Mama mau tinggal bersamaku disana. Setelah itu baru deh secara resmi keluar dari mess. Tapi ternyata oh ternyata, tinggal di rumah sendiri itu lebih nyaman. Meskipun fasilitas masih banyak yang kurang dibanding di mess, harus mikirin bayar listrik, tv dll, udah gitu lumayan jauh dari kantor (sekitar 600m- an lah) tetap aja rasanya lebih nyaman.

Rumahku ada di belakang komplek sekolah TK/SD?SMP Al Husna. Paling ujung dan satu-satunya warga non Al-Husna. Eh gak ding…yg diujung sebelah sana juga sekarang sdh bukan warga al Husna. Ceritanya panjang kenapa aku bisa berumah di situ, di sekolah yang bukan tempat aku bekerja. Nah, di halaman sekolah, yang pas depan rumahku, ada pohon seri atau pohon kersen. Pohon ini mudah sekali tumbuh dimana. Sepertinya penyebarannya secara alami oleh burung.  Pohon sering cenderung tumbuh rindang kesamping. Buahnya banyak dan meskipun gak enak-enak amat, disukai anak-anak. Ah, namanya juga anak-anak ya…

Di sore-sore, anak-anak kecil di kompleks itu sering main, manjat pohon itu dan mencari buahnya. Hampir setiap sore. Dan sepertinya siangnya pun anak-anak sekolah kadang juga memetik buah itu. Ini aku lihat pas hari Sabtu saat aku tidak nOLYMPUS DIGITAL CAMERAgantor. Herannya mereka selalu aja bisa nemu buah seri yang matang, yang bisa mereka makan. Maka aku sebut pohon itu adalah sahabat anak-anak.

 

 

 

 

 

 

 

Semasa kecilku sih, kita lebih kreatif dalam mendayagunakan buah seri ini. Buah yang masih mentah, keras dan berwarna hijau, biasanya kami buat jadi gasing kecil. Diujung buahnya itu kan ada titiknya, itulah yang jadi tumpuan putarnya. Tangkai buahnya untuk memutarnya dengan jari-jari kami. Mudah membuat dan memainkannya. Tidak seperti main gasing sungguhan yang butuh ketrampilan. Paling tidak ini bisa dengan mudah dimainkan oleh kami, anak-anak perempuan.

sumber gambar : http://ttfandisuprianto.blogspot.com

Advertisements