Shopping

I’m a bad shopper. Susah banget menghilangkan label itu dari diriku sendiri. Abis pengalaman seringnya malah menguatkan image itu sih. Kalo diingat-ingat, image itu bermula sejak masa kecil. Waktu kecil, kami terbiasa dapat bagian tugas rumah. Kadang menyapu, ngepel, masak atau belanja. Apalagi aku anak pertama, waktu itu rasanya yang paling banyak kerjaannya deh… Nah, seingatku kalo aku disuruh belanja ke pasar, Mama sering tidak puas dengan hasil belanjaanku. Dan yang paling aku ingat adalah peristiwa ketika aku salah belanja dan dimarahi Mama habis-habisan. Waktu itu aku ditugaskan belanja ke pasar bersama seorang kakak sepupu dari kampung. Karena kakakku ini belum tahu lingkungan, maka aku yang bertanggung jawab dalam tugas belanja ini. Jika semua yang ada di daftar belanja sudah terbeli, sisa uangnya boleh aku belikan kue. Aku senang dong… Ternyata saat belanja ada satu item yang gak ada. Lupa apa, tapi kayaknya cukup penting. Tentu aja sisa uang belanjanya cukup banyak dan semuanya aku belikan kue pancong! Walhasil, aku jadi dimarahi Mama. Bukannya berusaha cari barang itu, malah beli kue banyak-banyak. Rasanya sedih banget, karena udah merasa menjalankan tugas dan membayangkan puasnya makan kue pancong. Maka, meskipun disuruh menghabiskan kue pancong itu, enaknya gak terasa.

Kue pancong

Sejak itu aku jadi jarang dapat tugas belanja. Adikku yang lebih bisa diandalkan untuk urusan belanja ini. Akupun jadi gak berani ke pasar tradisional sampai dewasa. Baru setelah kuliah di kota lain, di Bandung tepatnya, aku berani ke pasar tradisional dan menikmatinya. Memang sih mula-mulanya gak sendiri. Seringnya bareng-bareng teman serumah. Paling gak di awal bulan kita belanja bersama untuk keperluan bersama. Atau kami belanja setelah lari pagi di Gasibu.

Sekarang aku malah senang dan menikmati belanja di pasar tradisional. Tidak lagi takut salah beli atau takut kemahalan. Karena aku itu tergolong payah dalam urusan tawar menawar. Rasanya seru dan kadang menemukan hal-hal yang tidak terduga di pasar. Jalan-jalan di pasar tradisonal di kota lain juga aku suka. Apakah itu berarti sekarang aku udah pinter belanja? Gak juga sih… Ini lebih karena sekarang aku belanja untukku sendiri dan dengan uangku sendiri. Kalo aku mau beli, ya beli aja. Gak pernah mikir takut kemahalan. Lagian sering gak tega kalo nawar dagangan bapak2 atau ibu2 penjual di pasar tradisional.

Pasar tradisonal di Pasar Minggu

Untuk belanja lain selain belanja keperluan dapur, aku sering gak puas dengan hasil belanjaku. Atau memaksa diri untuk merasa puas. Daripada menyesal… Contohnya bulan lalu. Aku terpaksa beli HP baru karena HPku hilang di angkot. HP yang hilang itu memang bukan HP bagus, jadi saat hilang, ya biasa-biasa aja. Tapi nomornya itu yang penting serta nomor kontaknya. HP itu memang hanya digunakan untuk telpon dan sms aja. Atau paling banter untuk m-banking. Karena gak ada budget dan memang mau nanti aja ganti smartphone (yg gak hilang), ya beli gantinya juga yang sekelasnya, yang low-end. Tapi ternyata jadinya beli HP yang low-end dengan harga yang gak murah-murah amat. Malah temanku bilang harga segitu mah bisa beli android s****** baru. Mula-nya sih puas aja dengan HP itu. Warnanya biru dan agak-agak smart dikit (bisa WA, Twitter dll). Tapi ternyata lemooot banget. Jadi nyesel deh, bahkan sempat terbersit pengen dibalikin aja ke tokonya, ganti dengan bener-bener low-end dan murah.  Tapi yah..sudahlah. Pake dan nikmati saja.

Kemarin ini juga terulang lagi shopping dengan hasil yang mengecewakan. Minggu itu aku memang sudah niat beli tas. Kriteria tas yang mau dibeli itu: sederhana modelnya tapi bagus (sreg di mataku lah…) dan bukan KW dari merk2 terkenal. Aku mah mendingan beli tas gak bermerk daripada KW. Pengennya yang agak bagusan dikit. Meluncurlah aku ke ITC Kuningan/Ambassador Mall. Katanya belanja di sini gak terlalu ribet dan banyak barang yang bagus. Adikku pernah dapat tas yang bagus dengan harga lumayan murah disini. Temanku juga, meskipun tas yang dibelinya tas KW tapi dia bilang banyak yang bagus2 dan murah. Tapi setelah seharian muter-muter dan dan turun naik ITC dan mall, ternyata sedikit banget toko yang jual tas. Itu pun gak banyak yang menarik. Daripada gak dapat, beli lah satu tas yang masuk kriteriaku. Tapi setelah di rumah kok rasanya itu tas gak ada istimewanya sama sekali ya? Nyesel kenapa gak naikin budgetnya sedikit dan beli tas di tempat lain…:( Apalagi setelah itu lihat2 tas di toko online, banyak yang modelnya terlihat bagus dengan kisaran harga yang masih masuk baudgetku.

Ngomong-ngomong soal belanja online, ini adalah cara belanja baru di era internet ini. Kata orang belanja online bisa bikin kecanduan dan membuat terlena. Aku juga sedikitnya pernah merasakan itu. Meskipun gak sampe kecanduan, tapi pernah seneng banget belanja online. Gak kerasa beli barang-barang yang sebenarnya gak benar-benar diperlukan.  Ada setrika kecil untuk travelling (gak terpake karena gak panas), alat untuk menghaluskan bumbu, plastik vacuum dll. Belum lagi yang salah pilih ukuran atau warna, atau terkecoh dengan gambar; kayaknya bagus tapi nyatanya abal-abal.

Gimana sih caranya jadi smart shopper? Ada yang bisa ngajarin?🙂

2 thoughts on “Shopping

  1. Ya ampunn lihat foto kue pancong jadi pengen bangett😥 . Kalau mau bikin sendiri ga punya cetakannya. Saya juga sukaa belanja di pasara tradisional, klo sudah kenal dg penjualnya bisa nawar semurah-murahnya hehe.

  2. iya, yang khas dari kue ini adalah cetakannya. Udah jarang nih yang jual kue ini. Yang masih ada itu kue cubit, yang rasanya hampir sama. Kadang-kadang, saya juga kangen dengan kue-kue yang rasanya sederhana seperti kue pancong ini.
    Nah, itu dia masalah saya: gak bisa nawar…:D…. Kalo di Jerman, belanja pake tawar menawar gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s