My life as a Cat Lover

Wah, ternyata gak sadar sudah setahun gak nulis di blog. Padahal pengen, cuma belum bisa ngatur waktu dengan baik. Ada beberapa hal yang berubah sejak setahun yang lalu. Salah satunya adalah bahwa sekarang aku seorang Cat Lover atau setidaknya pengennya sih seperti itu. Dan itu berkat si Cowy.

Sebenarnya dari dulu aku suka kucing, tapi gak pernah ingin memelihara. Si Cowy adalah kucing pertama yang aku pelihara. Mula-mula dia suka datang ke rumah. Dia kucing yang cantik. Warna bulunya putih dengan totol2 hitam seperti warna sapi. Anak-anak sekolah yang suka mainin kucing pun kadang memanggilnya si Sapi. Cowy ini sering takut dan kalah sama kucing lain, makanya sering aku bela kalo ada yang mengganggunya atau ketika berebut makanan. Karena penakut dan warnanya inilah maka kunamakan dia Cowy. Bisa berarti mirip sapi, bisa juga berarti coward alias penakut.Dia juga kucing yang pendiam, jarang mengeong.

Jpeg

Si Cowy

Semula Cowy hanyalah kucing stray, yang sering aku beri dia makan saat datang. Aku mulai menyediakan makan dan memperhatikannya secara secara intensif setelah kutemukan dia pincang karena kakinya patah. Waktu itu aku baru pulang dari bepergian (lupa dari mana) dan menemukan si Cowy datang ke rumah dengan terpincang2. Hingga saat ini, meskipun sudah sembuh kaki depannya terlihat bengkok. Pernah dia kelihatan hamil, tapi entah dimana melahirkannya dan kemana anaknya. Hingga suatu hari dia benar-benar hamil dan melahirkan di rumah. Anaknya 3 ekor. Yang putih kuberi nama Macchiato. Sebenarnya gak benar2 putih, tapi krem seperti susu coklat, dengan warna coklat/hitam di sekeliling telingan dan hidungnya. Waktu baru lahir tampak paling jelek, tapi setelah beberapa minggu, malah jadi yang paling cantik. Yang hitam kuberi nama Coffe. Gak solid hitam sih, perut dan dadanya putih. Yang putih bertotol2 hitam dan yang paling mirip ibunya namanya Moccachino. Senang rasanya melihat mereka tumbuh sehat di kardus yang kusediakan. Merasakan serunya saat mereka belajar makan. Mereka kitten yang lincah. Suka naik dan manjat teralis jendela, bahkan sampai ke lubang angin. Tapi nanti takut turun.

20150828_163425[1]

Jika malam mereka di dalam rumah, tapi siang hari kardus tempat tidur mereka kusimpan di teras belakang. Suatu malam setelah makan, aku lupa belum memasukkan mereka ke dalam. Aku tertidur cepat. Sekitar jam 2 terbangun dan ingat mereka masih di luar. Tapi saat keluar ternyata kardusnya kosong. Pot-2 dekat teras tumpah berantakan. Aku cari2 ternyata mereka ngumpet di tempat pompa air yang tertutup papan. Kubongkar papannya, tapi hanya menemukan si Opi dan Chino. Kucari2 sekitar rumah, tidak juga kutemukan Chia. Mungkin ada yang memangsanya, entah ular atau musang yang beberapa hari sebelumnya lewat dan membuat si Cowy shock ketakutan. Baru kali itu kurasakan sedih yang mendalam kehilangan anak bulu yang cantik itu. Mulanya akau merasa lebay, tapi saat kutanya Ruby temanku yang seorang CL, ternyata hal itu biasa. Ya, aku jadi sering membaca status Ruby di Facebook yang bercerita tentang kucing-kucingnya. Dari situ jadi masuk grup Peduli Kucing. Aku juga sering mengikuti cerita Evi, teman di kost Karang Pola dulu, tentang kucingnya. Aku jadi mengenal para Cat Lover melalui Faceboook. Betapa mereka sering menyelamatkan kucing yang teraniya di jalanan, mengadopsinya dan merawatnya jadi kucing2 yang sehat dan cantik. Sungguh aku ingin bisa seperti mereka.

Aku juga jadi kenal dokter hewan di Cicurug ini. Dia seorang dokter hewan (wanita) muda yang bertugas di Puskeswan Cicurug. Pertama kali menghubunginya karena ada scabies di kupingnya. Ada yang lucu ketika habis diobati dokter. Si Cowy kan belum pernah diobati dan dia cenderung takut dengan orang asing. Jadi saat mau disuntik harus dipaksa. Setelah itu, dia marah. Aku dicuekin. Lapar pun dia gak mau minta makan.

Sekarang Chino dan Opi udah remaja. Sehat,besar dan sudah di-vaksin. Si Opi malah termasuk gendut karena emang dia makannya banyak. Mereka punya seekor adik, yang cantik (padahal jantan). Sebenarnya adiknya 4, tapi yang 2 hilang dan yang 1 meninggal. Yang tersisa diberi nama Cicha, karena dia cantik. Eh, ternyata setelah lebih besar ketahuan bahwa dia cowok…ah, biarlah namanya tetap Cicha…

Cicha cantik kan..?

Cicha cantik kan..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s