Review

Sembilan dari Nadira

Writer: Leila S. Chudori

Dahulu kala, di sebuah pelatihan jurnalistik yang saya ikuti sewaktu saya
masih mahasiswa, saya pernah mengajukan pertanyaan kepada narasumbernya. Saat itu materinya tentang menulis resensi. Nara sumbernya, Radhar Panca Dahana, kebetulan merupakan penulis favorit saya waktu itu. Pertanyaan saya: bagaimana kita bisa tetap objektif jika kita meresensi buku yang ditulis oleh pengarang yang kita sukai. Saat itu saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tapi saya senang akhirnya bisa bertanya dan mengajukan pertanyaan yg sulit dijawab he..he..he…Saya dari dulu termasuk pemalu dan punya semacam ‘tekad’ bahwa saya tidak akan bersuara di depan umum jika tidak berkualitas.

Ternyata kesulitan itu saya hadapi lagi saat ini. Saya ingin sekali bisa
menulis review atau resensi secara objektif dari buku yang sedang saya baca, yaitu “9 dari Nadira” karya Leila S. Chudori. Masalahnya dia penulis favorit saya
Di zaman remaja dulu saya pernah membaca cerbungnya di majalah Gadis “Seputih Hati Andra”. Itu karya yang membekas buat saya. Ceritanya tidak ber-happy ending seperti halnya cerita-cerita yang saya baca. Bahkan akhirnya menggantung.
Mungkin itu yang membuat imajinasi saya tidak berhenti. Di benak saya
berkelebat beberapa skenario tentang kelanjutan kisah Andra ini.

Sebenarnya saya belum selesai membaca buku ini. Baru setengahnya. Sialnya ini Senin, dimana saya seharusnya fokus pada tugas-tugas saya. Tapi saya seperti terseret arus kisah tokoh Nadira yang rumit dan suram. Alur cerita ada kemiripan dengan kisah sinetron “Dunia Tanpa Koma”. Sinetron yang berbeda dengan sinetron pada umumnya ini memang ditulis oleh Leila. Tapi cerita Nadira ini jauh lebih suram. Pergulatan jiwa para tokohnya begitu
menarik, membuat saya penasaran ingin mengikuti terus kelanjutannya.

Kendati Leila menulis cerita-cerita dalam buku ini dalam kurun waktu yang
berbeda dan dimaksudkan sebagai kumpulan cerpen, saya melihatnya sebagai novel. Ceritanya berkaitan dan terajut dalam sebuah untaian cerita utuh.

Satu hal yang membuat saya berpikir lebih dalam adalah nilai yang diusung
buku ini. Saya yang sekarang lebih banyak terinduksi oleh nilai-nilai
religius Islam, seperti terbentur oleh nilai yang didukung Leila. Saya merasa dapat memahami hal ini, melihat latar belakang dan lingkungan Leila yang berasal dari majalah Tempo yang cenderung berpihak pada liberalisme dan humanisme.
Sebagian diri saya tergoda untuk menilai hitam putih. Begitulah jika
kacamata agama yang digunakan. Nilai agama jelas, hitam-putih, salah-benar.
Tapi sisi humanis saya lebih bisa memahami pergulatan jiwa dan nilai
yang dianut para tokoh dalam buku ini. Mungkin dalam hal ini saya harus mengikuti saran Mas Radhar yang waktu terasa masih mengambang buat saya: menjaga jarak. Saya harus mengambil jarak. Jarak antara nilai yang saya punya dan nilai Leila S.Chudori. Saya tetap mengagumi hasil karyanya, tapi saya bisa tidak ikut mengamini nilai yang diusungnya.

26 October 2009

Perahu Kertas
Category: Books
Genre: Romance
Author: Dee
Hmm…apa ya kata sederhana yang bisa dikatakan tentang buku ini? Yang pasti buku ini sudah berhasil membuat perasaanku terhanyut dan teraduk-aduk. Kadang pengen ketawa, kadang sedih, kadang berhenti sebentar untuk merenung. Saya berusaha gak membaca testimoni para
pembaca, sebelum membaca tuntas isi novel ini. Tapi setelah selesai membaca novel ini kemudian baca testimoni yang ada, saya setuju dengan para pemberi testimoni tersebut. Two thumbs up for Dee.
Saya dibuat penasaran dengan plot cerita yang sebenarnya sederhana dan biasa, tentang cinta. Saya dibuat terkesan dengan para tokohnya. Dee berhasil membuat penokohan yang kuat. Kugy mengingatkan saya pada sepupu saya yang bisa gokil, suka ngemil tapi ternyata juga pintar bercerita;
si Ulil. Sayang secara fisik beda banget (Sorry, Dek…Physically you’re definitely not Kugy)

Katanya ini novel pertama Dewi Lestari, tapi mungkin karena ditulis ulang, terasa ada kedewasaan dan kematangan dibanding novel Dee yang pertama “Supernova”. Efeknya sih hampir
sama buatku. Dulu juga aku penasaran baca buku itu sampe habis. Baca lompat2 sampe akhir, balik lagi baca dengan seksama. Di Supernova, ada banyak catatan kaki karena Dee menuliskan begitu banyak teori sains dalam dialog tokoh-tokohnya. Dalam Perahu kertas, Dee tidak lagi ingin menonjolkan pengetahuannya tentang berbagai hal, tapi dialog-dialog yang ada tetap terasa cerdas. Fresh.

Satu hal yang membuatku sering berhenti sejanak pada bagian-bagian tertentu dari buku ini adalah konsep ikhlas. Membiarkan semua mengalir seperti yang sudah ditentukan, dengan tetap berusaha menggapai impian hidup.

3 September 2009
Maryamah Karpov
Category: Books
Genre: Other
Author: Andrea Hirata
Hhh…akhirnya tamat juga baca buku setebal 502 halaman ini. Lama juga, hampir 2 minggu. Tapi gak setiap malam dibaca sih..
Maklum, ketahanan dan kecepatan membaca sudah menurun sekarang. Tapi, satu hal yang pasti buku ini memang bukan buku yang bisa kubaca dengan meloncat-loncat sekedar untuk mengikuti jalannya cerita. Terlalu sayang melewatkan lembar demi lembar tutur cerita Andrea Hirata yang memukau ini. Di buku ini dia banyak bercerita tentang budaya dan kebiasaan orang melayu dan cara bertuturnya pun sangat melayu.

Jangan berharap ada cerita tentang apa dan siapa Maryamah Karpov dalam buku ini, karena memang hanya sedikit disebutkan namanya. Mimpi-mimpi lintang? Bolehlah meskipun hanya juga hanya sedikit. Yang masih teringat dibenak saya (karena begitu banyak dicerita AH) adalah orang-orang Melayu para tetangga si Ikal itu.

Cara bercerita AH masih enak, itulah sebabnya maka saya tidak bisa membacanya dengan cara meloncat-loncat atau skimming.
Tapi membaca buku ini dari awal hingga pertengahan, saya kira buku ini tidak bisa dimasukkan sebagai memoar atau kisah nyata.
Banyak hal yang bombastis atau perlu dipertanyakan jika itu adalah memoar. Jadi anggaplah buku ini sebagai fiksi dimana penulis sah-sah saja untuk menggunakan imajinasinya sebebas mungkin, maka Anda tidak akan terganggu oleh pertanyaan2 seperti: kok bisa ya seorang lulusan S2 dari luar negeri hanya berdiam di kampungnya mengerjakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan
bidang ilmunya?. Fiksinya makin kentara , tapi juga bikin seru dan menarik, pada bagian kisah pencarian A Ling yang melibatkan paduan sain (fiksi ilmiah) dan supranatural.

Secara keseluruhan buku ini enak dibaca, humornya segar dan bernas dan kisah petualangannya seru. Saya biasanya suka pada happy ending, tapi kali ini saya suka ending yang diberikan AH. Indah, puitis…meskipun tidak happy.

9 Januari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s